kisah Nabi Adam Turun Ke bumi
Written By Rachmat.M.Flimban on Rabu, Januari 31, 2024 | Rabu, Januari 31, 2024
رأي ابن كثير والإمام السيوطي في تقدير أن النبي آدم أمره الله تعالى بالنزول إلى الأرض سنة ٥٨٧٢ ق.م ٣١يوليو ٢٠٢٣
pendapat Ibnu Katsir dan Imam as-Suyuthi yang memperkirakan bahwa Nabi Adam as diperintahkan turun ke bumi oleh Allah Ta'ala pada tahun 5872 SM.31 Jul 2023
“Setiap kali berusaha menutupi dirinya dengan dedaunan surga, pasti segera berjatuhan,” kata Ibnu Qudamah.
Hawa mengatakan, sebab iblis telah bersumpah kepadanya tentang manfaat makan pohon khuldi.
Setelah itu Adam as berlari di surga karena malu pada Tuhan semesta alam ketika sebatang pohon menghimpitnya dengan beberapa dahannya. Adam as menyangka bahwa siksaan telah disegerakan dan Adam menundukkan kepalanya dan berseru. “Ampun-ampun!”
Maka Allah azza wa jalla menanyainya “Wahai Adam, kamu mau lari dariku?”
Dia menjawab, “Tidak. Tapi aku malu kepadamu Wahai Tuhanku.”
Lalu Allah azza wa jalla mewahyukan kepada dua orang malaikat: Jibril dan Mikail. “Keluarkan Adam dan Hawa dari sisiku. Mereka telah mendurhakaiku.”
Jibril bergegas menanggalkan mahkotanya, sementara Mikail melepaskan hiasan dari pelipisnya. Pasca diturunkan dari kerajaan suci ke negeri kelaparan dan kepayahan Adam as menangisi kesalahannya.
Setelah diturunkan ke bumi, tiba-tiba seekor elang yang sangat haus melintas di dekatnya dan langsung meminum air mata Adam yang terus mengalir di pipinya. Kemudian Allah menjadikan Elang tersebut mampu berbicara.
“Adam, aku telah hidup di bumi ini 2000 tahun sebelum dirimu. Aku telah mengembara ke ujung barat dan ujung timurnya. Aku telah minum air dari lembahnya, puncak gunungnya, dan tengah samudra. Tetapi aku belum pernah minum air yang lebih manis dan lebih wangi dari pada akhir-akhir ini.” Mendengar hal itu adam tersinggung dan berkata. Elang, celaka kamu
Mendengar hal itu Adam tersinggung dan berkata. “Elang, celaka kamu, apakah kamu paham apa yang kamu ucapkan? Bagaimana kamu bisa merasakan manisnya air mata seorang hamba yang telah mendurhakai Tuhannya dan mengalir di kedua pipinya yang sama-sama telah bermaksiat? Air mata apalagi yang lebih pahit daripada air mata seorang yang bermaksiat?
“Elang, aku yakin kamu sebenarnya menghina aku karena aku telah mendurhakai Tuhanku lalu aku dibuang dari kampung kenikmatan ke kampung kecelakaan dan kemiskinan,”Jawab Adam.
Elang berkata lagi “Adam aku sama sekali tidak bermaksud menghina. Tetapi, aku benar-benar merasakan kesegaran air matamu. Air mata apa yang lebih manis daripada air mata seorang hamba yang telah mendurhakai Tuhannya lalu ia ingat dosanya, hatinya menjadi ketakutan, tubuhnya menjadi kaku, dan ia terus-menerus menangisi dosanya karena takut kepada tuhan-nya?”
pendapat Ibnu Katsir dan Imam as-Suyuthi yang memperkirakan bahwa Nabi Adam as diperintahkan turun ke bumi oleh Allah Ta’ala pada tahun 5872 SM. Pendapat ini tertulis dalam Qashash al-Anbiya’ Ibn Katsir dan Badai’ az-Zuhur Imam as-Suyuthi. Itu berarti, Adam as dan isterinya Hawa turun ke bumi hampir 8 ribu tahun yang lalu.
Namun, ada juga ilmuwan yang berpendapat bahwa Nabi Adam as. turun ke bumi jauh lebih lama dari itu. Mereka, menurut Miftakhuddin dalam bukunya berjudul Sejarah Peradaban Dunia –Lengkap — dari Era Manusia Pertama Hingga Perang Dunia Kedua, meyakini bahwa manusia modern pertama kali di muka bumi muncul di Afrika pada 200 ribu tahun yang lalu lebih sedikit. Manusia modern yang dimaksud ini tak lain adalah Nabi Adam as.
Penelitian ini dipimpin oleh Dr Eran Elhaik dari University of Sheffield dan Dr Dan Graur dari University of Houston. Hasil penelitian ini diperkuat oleh hasil studi ilmuwan Inggris yang menyatakan Adam dan Hawa hadir di bumi sekitar 209 ribu tahun lalu.
Lalu di mana Nabi Adam turun? Para sahabat Rasulullah saw meriwayatkan bahwa tempat turunnya Nabi Adam as. adalah India. Di antara sahabat yang meriwayatkan hal ini, menurut Sami bin Abdullah Al-Maghlouth dalam Atlas Haji & Umrah, adalah Jabir seperti disampaikan Ibnu Abu Ad-Dunya, Ibnu Al-Mundzir, dan Ibnu Asakir. Lalu, Ibnu Umar seperti yang disampaikan Ath-Thabrani.
Adapun Hawa diturunkan oleh Allah Ta’ala di Jeddah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, “Adam diturunkan di India dan Hawa di Jeddah. Adam pun mencari Hawa hingga tiba di Jama’, lalu Hawa didekatkan kepadanya—karena itulah dinamakan Muzdalifah. Akhirnya, mereka pun bertemu di Jama’.
Selanjutnya, Ibnu Katsir dan Imam as-Suyuthi memperkirakan bahwa Nabi Adam as. meninggal pada tahun 4942 SM. Ketika itu, usia beliau sudah mencapai 930 tahun. Nabi Adam as meninggal di India, namun ada juga yang berpendapat beiau meninggal di Mekkah. Jumlah keturunan beliau diperkirakan 40 laki-laki dan perempuan.
Kemudian, bagaimana peradaban manusia bisa terbentuk setelah itu? Sejumlah sejarawan meyakini bahwa setelah peristiwa pembunuhan putra Adam, Qabil, atas putra Adam yang lain, Habil, maka Qabil (atau disebut juga Kain) pergi ke suatu tempat dan membentuk peradabannya sendiri. Bahkan, menurut Qurthubi, Qabil memiliki agama sendiri yang tak sama dengan agama bapaknya, Adam, dan keturunannya pun banyak membuat kerusakan, terutama Lamekh.
Sejumlah peneliti Barat mengemukakan bahwa tempat di mana Qabil membangun peradabannya sendiri ini dinamakan Atlantis dan berada di benua dengan nama yang sama, yakni Atlantis. Adapun Qurthubi menafsirkan Qabil pergi ke wilayah Adnan di Yaman.
Pasca perginya Qabil, Adam dan Hawa dikaruniai kembali anak kembar bernama Azura dan Set (Syits). Dari sinilah keturunan Adam kembali berlanjut hingga ke Nabi Idris dan Nuh. Mereka juga membangun sebuah peradaban bernama Lemuria, dan tinggal di benua yang disebut Mu (ada juga yang menyebut Motherland).
والله أعلم
qisa قصة
Kisah Penciptaan Nabi Adam Alaihissallam
Written By Rachmat.M.Flimban on Senin, Januari 29, 2024 | Senin, Januari 29, 2024
Kisah Penciptaan Nabi Adam Alaihissallam
KISAH PENCIPTAAN NABI ADAM ALAIHISSALLAM
Oleh
Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc
Manusia pertama yang diciptakan Allâh Azza wa Jalla adalah Adam Alaihissallam. Beliau Alaihissallam adalah bapak dan nenek moyang seluruh manusia di seluruh dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُ مْ مِنَ الْجَنَّةِ
Wahai anak Adam! Janganlah kalian terfitnah oleh syaithan, sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga [Al-A'râf/7:27]
Allâh Azza wa Jalla menyebutkan dalam ayat di atas bahwa Adam dan pasangannya adalah orang tua seluruh manusia.
Allâh Azza wa Jalla menciptakan Adam Alaihissallam dari segenggam tanah yang Allâh Azza wa Jalla ambil dari seluruh permukaan tanah, maka lahirlah anak Adam yang sesuai dengan asal tanahnya. Di antara mereka ada yang berulit putih, merah, hitam dan perpaduan antara warna-warna tersebut. Diantara meraka ada yang bersifat lembut dan kasar serta perpaduan antara keduanya serta di antara mereka ada yang baik dan jahat. [1]
Sebelum menciptakan Adam Alaihissallam , Allâh Azza wa Jalla terlebih dahulu mengabarkan kepada para Malaikat-Nya bahwa Dia akan menciptakannya manusia di muka bumi. Mendengar ini, para Malaikat bertanya kepada Allâh Azza wa Jalla tentang hikmah penciptaan manusia di muka bumi, padahal para Malaikat terus-menerus beribadah dengan memuji dan bertasbih kepada Allâh Azza wa Jalla tanpa henti dan tidak pernah melakukan durhaka kepada-Nya, sementara manusia ada kemungkinan akan melakukan kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi. Menjawab ini, Allâh Azza wa Jalla mengatakan kepada mereka bahwa Dia Azza wa Jalla lebih mengetahui tentang apa-apa yang tidak diketahui oleh para Malaikat.
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَة ً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَن َحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا ل َا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, “Sejujurnya Aku hendak menjadi seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allâh berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [Al-Baqarah/2:30]
Perkataan para Malaikat tentang kerusakan dan pertumpahan darah yang akan dilakukan manusia di muka bumi berdasarkan apa yang pernah dilakukan jin di muka bumi sebelum Adam Alaihissallam diciptakan. [2]
KEMULIAN ADAM ALAIHISSALLAM
Setelah Adam Alaihissallam diciptakan, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan para Malaikat dan jin untuk sujud kepada Adam Alaihissallam :
Baca Juga : Menebus Siksa
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِي سَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. [Al-baqarah/2:34]
Ini merupakan kemulian yang sangat agung yang Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan kepada Adam Alaihissallam .
Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya, “Allah memerintahkan kepada para Malaikat yang saat itu sedang bersama dengan Iblis, bukan kepada semua malaikat yang ada di langit, 'Sujudlah kepada Adam!' Semua Malaikat itu sujud kepada Adam kecuali Iblis. Dia tidak mau sujud dan menyombongkan diri. Dia mengatakan, 'Saya tidak akan sujud kepadanya. Saya lebih baik daripada dia. Saya lebih tua dan lebih kuat. Engkau telah menciptakan aku dari api sementara Adam, Engkau menciptakan dari tanah.' Iblis memandang bahwa api lebih kuat dari tanah. 3]
Inilah awal mula permusuhan Iblis terhadap Bani Adam.
Sujud yang terkandung pada ayat di atas adalah bentuk penghormatan dan pemuliaan, bukan seperti sujud dalam shalat. Karena sujud yang seperti dalam shalat merupakan hak Allâh yang tidak boleh diberikan kepada selain Allâh Azza wa Jalla . [4]
Bentuk lain dari kemulian yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada nabi Adam Alaihissallam adalah dia diajari seluruh nama-nama benda. Kemulian ini yang Allâh tampakkan di hadapan para Malaikat, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla nyatakan dalam firman-Nya:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَة ِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيٿَ ﴎ ٣١﴾ قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أ َنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian Dia mengemukakannya kepada para Malaikat dan berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!”
Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”
Allâh berfirman, “Hai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah Adam memberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allâh berfirman, “keluarnya sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan?” [Al-Baqarah/2:31-33]
Ibnu Katsir rahimahullah memandang bahwa perintah sujud lebih dulu diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla dibandingkan pengajaran Allâh Azza wa Jalla kepada Adam akan nama seluruh benda. Namun penyebutannya didahulukan sebelum ayat yang diperintahkan sujud, di karenakan lebih sesuai dengan pertanyaan para Malaikat tentang hikmah penciptaan manusia di muka bumi. [5]
Baca Juga Apakah Mungkin Seseorang Mencela Kakeknya Sendiri?
Setelah para Malaikat diperintahkan untuk sujud kepada Adam Alaihissallam ,Allah mempersilahkan Adam Alaihissallam untuk tinggal di surga.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا
Dan Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga, dan makanlah darinya.”
Para penindas الظَّالِمِينَ
Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan isterimu di surga ini! Dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. [Al-Baqarah/2:35]
Untuk melengkapi kebahagian Adam Alaihissallam , Allâh Azza wa Jalla menciptakan Hawa yang diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla dari tulang rusuk Adam Alaihissallam yang menemaninya di dalam surga, keduanya diperbolehkan untuk menikmati semua kenikmatan di dalam surga, kecuali memakan satu jenis buah. [6]
Jenis buah yang terlarang bagi Adam Alaihissallam dan Hawa untuk mengkonsumsinya tidak diketahui jenisnya, meskipun sebagian Ulama Menyebutkan beberapa jenis buah, namun selama Allâh Azza wa Jalla tidak menjelaskannya maka memahami ayat tanpa menentukan jenisnya lebih baik. [7]
PELAJARAN PENTING
Semua ketetapan Allâh Azza wa Jalla mengandung hikmah yang terkadang tidak dijelaskan kepada paramakhluk-Nya, sehingga mereka tidak mengetahuinya dengan pasti.
Adam Alaihissallam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla. Dia juga merupakan manusia pertama yang tinggal di muka bumi.
Jin tinggal di muka bumi sebelum manusia dan mereka melakukan kerusakan di atasnya.
Kepatuhan para Malaikat terhadap perintah Allâh dan kekufuran Iblis.
Kesombongan adalah salah satu penyebab Iblis jatuh pada kekufuran dan kemudian keluar dari surga dengan mendapatkan laknat sampai hari berhenti.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIX/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
Catatan Kaki
[1] HR. Abu Daud, Bab fil Qadar dan Imam at-Tirmidzi, Bab wa min Sûratil Baqarah
[2] Lihat al-Bidâyah wan Nihâyah dan Tafsir Ibnu Katsir , Surat al-Baqarah/2:30
[3] Lihat Tafsir Ibnu Katsir
[4] Tafsir Ibnu Katsir
[5] Tafsir Ibnu Katsir .
[6] Para ulama berbeda pendapat tentang jenis buah yang diharamkan untuk di makan itu. Sebagian besar mereka menyebutkan buah anggur dan ada yang menyatakan buah zaitun dan ada yang mengatakan gandum. Lihat al-Bidâyah wan Nihâyah dan tafsir Ibnu Katsir
[7] lihat Tafsir Sûratil Baqarah , Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hlm. 129
Rumah/B2. Topik Bahasan8 Kisah.../Kisah Penciptaan Nabi Adam...
Hadits Tentang Suami Istri , Hukum Pinjam Uang Dengan Bunga , Apa Itu Tawasul , Tentang Surah Ar Rahman ,
Tipu Daya Setan
Referensi : Article source Ibnu Majah author; Rachmathttps://almanhaj.or
Kenali Sejarah Muara Enim Mulai Marga Yang Mendiami
Written By Rachmat.M.Flimban on Rabu, Januari 03, 2024 | Rabu, Januari 03, 2024
Kenali Sejarah Muara Enim Mulai Marga Yang Mendiami, Hingga APBD-nya Yang Besar
Muara Enim, Juli 1948. Petani karet di Muara Enim membawa getah karet dengan gerobak ditarik oleh se-ekor sapi (instagram/@rajakelir)
Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Muara Enim Nomor 47/Deshuk/1972 tanggal 14 Juni 1972, telah ditetapkan bahwa Hari Jadi Kabupaten Muara Enim tanggal 20 November 1946.
Sesuai dengan Surat Edaran Bupati Kepala Daerah Tingkat II Muara Enim Nomor 2642/2/B/1980 tanggal 6 Maret 1980, terhitung tanggal 1 April 1980 nama Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah (LIOT) dikembalikan pada nama semula, yaitu Kabupaten Daerah Tingkat II Muara Enim.
Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Darurat Nomor 4 Tahun 1956 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 55), Undang-Undang Darurat Nomor 5 Tahun 1956 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 56).
Lalu, Undang-Undang Darurat Nomor 6 Tahun 1956 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 57) tentang Pembentukan Daerah Tingkat II termasuk Kotapraja dalam Lingkungan Daerah Tingkat I Sumatera Selatan.
Baca Juga: Investasi Rp226 Triliun, 12 Jalan Tol Ini Akan Hiasi Wajah Indonesia Kedepan
Junto Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 74; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1821) tentang Penetapan Undang-Undang Darurat tersebut di atas sebagai Undang-Undang.
Junto Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 74; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1821) tentang Penetapan Undang-Undang Darurat tersebut di atas sebagai Undang-Undang.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 tersebut di atas, Muara Enim dibentuk menjadi Daerah yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri, dengan
nama Kabupaten Daerah Tingkat II Muara Enim, dengan batas-batas sebagaimana dimaksud dalam Ketetapan Gubernur Provinsi Sumatera Selatan tanggal 20 Maret 1950 Nomor Gb/100/1950.
Selanjutnya sesuai dengan Pasal 121 Undang - Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839) tentang Pemerintahan Daerah, sebutan “Kabupaten Daerah Tingkat II Muara Enim” berubah menjadi Kabupaten Muara Enim.
Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 1990 dan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Nomor 22 Tahun 1990 tanggal 26 November 1990 telah dibentuk dua Wilayah Kerja Pembantu Bupati, meliputi:
1) Wilayah Tanjung Enim dengan pusat kedudukan di Tanjung Enim, mencakup:
a) Kecamatan Muara Enim
b) Kecamatan Tanjung Agung
c) Kecamatan Semende; dan
d) Kecamatan Gunung Megang
2) Wilayah Gelumbang dengan pusat kedudukan di Gelumbang mencakup:
a) Kecamatan Gelumbang
b) Kecamatan Rambang Lubai
c) Kecamatan Rambang Dangku
d) Kecamatan Talang Ubi.
Pada Tahun 1999, berdasarkan Pasal 129 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3839) tentang Pemerintahan Daerah, Wilayah Kerja/Lembaga Pembantu Bupati dihapus.***
Apabila artikel ini menarik, mohon untuk men-share-kannya kepada teman-teman Anda, terima kasih.
Editor: Rachmat.M
Sumber :Klikanggaran
Apakah Benar Nabi Dikubur di Masjid Nabawi?
Written By Rachmat.M.Flimban on Sabtu, September 17, 2022 | Sabtu, September 17, 2022
Pertanyaan:
Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Bagaimana membantah kaum Sufi yang melihat kuburan Nabi sallallāhu 'alaihi wa sallam dan mengatakan bahwa kuburan beliau ada di masjid?”
Jawaban:
Beliau tidak dikubur di masjid. Kuburan yang ada di dalam masjid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut dulunya adalah ruangan di luar masjid. Rumah-rumah milik Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para istri beliau raḍiyallāhu anhunna ada di luar masjid. Namun masjid saat Umar bin Abdul Aziz raẖimahullāhu taʿalā menjadi pemimpin kota Madinah atas perintah Khalifah agar rumah-rumah tersebut dimasukkan dalam masjid. Akhirnya rumah-rumah tersebut dimasukkan dalam masjid saat Umar bin Abdul Aziz menjadi pemimpin kota Madinah atas perintah Khalifah.
Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
REKENING DONASI :
BANK SYARIAH INDONESIA
7086882242
an YAYASAN YUFID NETWORK
Kode BSI: 451
Penulis Salinan; Rachmat.M.M,a
Sejarah Hari Guru Diperingati
Written By Rachmat.M.Flimban on Rabu, Agustus 24, 2022 | Rabu, Agustus 24, 2022
Sejarah Urutan Ketua Rukun Tengga (RT)
Written By Rachmat.M.Flimban on Sabtu, Februari 05, 2022 | Sabtu, Februari 05, 2022
Pada Tanggal 13 Agustus 2013
- Ketua Rukun Tetangga Sementara: Somat
- Ketua Rukun Tetangga Terpilih 13 Aqustus 2013 : ARANDI
- Ketua Rukun Tetangga Terpilih Periode ; Andri ?
- Ketua Rukun Tetangga Terpilih Periode Agustus 2019 - 2022 : HIDAYAT MAULANA Periode Agustus 2019-2022
- Ketua Rukun Tetangga Periode 2022 - 2025 Terpilih ?



.webp)
