Latest Post
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

kisah Nabi Adam Turun Ke bumi

Written By Rachmat.M.Flimban on Rabu, Januari 31, 2024 | Rabu, Januari 31, 2024


قصة نزول النبي آدم إلى الأرض

 رأي ابن كثير والإمام السيوطي في تقدير أن النبي آدم أمره الله تعالى بالنزول إلى الأرض سنة ٥٨٧٢ ق.م ٣١يوليو ٢٠٢٣

pendapat Ibnu Katsir dan Imam as-Suyuthi yang memperkirakan bahwa Nabi Adam as diperintahkan turun ke bumi oleh Allah Ta'ala pada tahun 5872 SM.31 Jul 2023

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Kisah Penciptaan Nabi Adam Alaihissallam

Written By Rachmat.M.Flimban on Senin, Januari 29, 2024 | Senin, Januari 29, 2024



Kisah Penciptaan Nabi Adam Alaihissallam

KISAH PENCIPTAAN NABI ADAM ALAIHISSALLAM

Oleh

Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc

Manusia pertama yang diciptakan Allâh Azza wa Jalla adalah Adam Alaihissallam. Beliau Alaihissallam adalah bapak dan nenek moyang seluruh manusia di seluruh dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُ مْ مِنَ الْجَنَّةِ

Wahai anak Adam! Janganlah kalian terfitnah oleh syaithan, sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga [Al-A'râf/7:27]

Allâh Azza wa Jalla menyebutkan dalam ayat di atas bahwa Adam dan pasangannya adalah orang tua seluruh manusia.

Allâh Azza wa Jalla menciptakan Adam Alaihissallam dari segenggam tanah yang Allâh Azza wa Jalla ambil dari seluruh permukaan tanah, maka lahirlah anak Adam yang sesuai dengan asal tanahnya. Di antara mereka ada yang berulit putih, merah, hitam dan perpaduan antara warna-warna tersebut. Diantara meraka ada yang bersifat lembut dan kasar serta perpaduan antara keduanya serta di antara mereka ada yang baik dan jahat. [1]

Sebelum menciptakan Adam Alaihissallam , Allâh Azza wa Jalla terlebih dahulu mengabarkan kepada para Malaikat-Nya bahwa Dia akan menciptakannya manusia di muka bumi. Mendengar ini, para Malaikat bertanya kepada Allâh Azza wa Jalla tentang hikmah penciptaan manusia di muka bumi, padahal para Malaikat terus-menerus beribadah dengan memuji dan bertasbih kepada Allâh Azza wa Jalla tanpa henti dan tidak pernah melakukan durhaka kepada-Nya, sementara manusia ada kemungkinan akan melakukan kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi. Menjawab ini, Allâh Azza wa Jalla mengatakan kepada mereka bahwa Dia Azza wa Jalla lebih mengetahui tentang apa-apa yang tidak diketahui oleh para Malaikat.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَة ً  ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَن َحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ  ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا ل َا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, “Sejujurnya Aku hendak menjadi seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allâh berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [Al-Baqarah/2:30]

Perkataan para Malaikat tentang kerusakan dan pertumpahan darah yang akan dilakukan manusia di muka bumi berdasarkan apa yang pernah dilakukan jin di muka bumi sebelum Adam Alaihissallam diciptakan. [2]

KEMULIAN ADAM ALAIHISSALLAM

Setelah Adam Alaihissallam diciptakan, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan para Malaikat dan jin untuk sujud kepada Adam Alaihissallam :

Baca Juga : Menebus Siksa

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِي سَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. [Al-baqarah/2:34]

Ini merupakan kemulian yang sangat agung yang Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan kepada Adam Alaihissallam .

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya, “Allah memerintahkan kepada para Malaikat yang saat itu sedang bersama dengan Iblis, bukan kepada semua malaikat yang ada di langit, 'Sujudlah kepada Adam!' Semua Malaikat itu sujud kepada Adam kecuali Iblis. Dia tidak mau sujud dan menyombongkan diri. Dia mengatakan, 'Saya tidak akan sujud kepadanya. Saya lebih baik daripada dia. Saya lebih tua dan lebih kuat. Engkau telah menciptakan aku dari api sementara Adam, Engkau menciptakan dari tanah.' Iblis memandang bahwa api lebih kuat dari tanah. 3]

Inilah awal mula permusuhan Iblis terhadap Bani Adam.

Sujud yang terkandung pada ayat di atas adalah bentuk penghormatan dan pemuliaan, bukan seperti sujud dalam shalat. Karena sujud yang seperti dalam shalat merupakan hak Allâh yang tidak boleh diberikan kepada selain Allâh Azza wa Jalla . [4]

Bentuk lain dari kemulian yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada nabi Adam Alaihissallam adalah dia diajari seluruh nama-nama benda. Kemulian ini yang Allâh tampakkan di hadapan para Malaikat, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla nyatakan dalam firman-Nya:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَة ِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيٿَ ﴎ ٣١﴾ قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا  ۖ إِنَّكَ أ َنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian Dia mengemukakannya kepada para Malaikat dan berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!”

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”

Allâh berfirman, “Hai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah Adam memberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allâh berfirman, “keluarnya sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan?” [Al-Baqarah/2:31-33]

Ibnu Katsir rahimahullah memandang bahwa perintah sujud lebih dulu diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla dibandingkan pengajaran Allâh Azza wa Jalla kepada Adam akan nama seluruh benda. Namun penyebutannya didahulukan sebelum ayat yang diperintahkan sujud, di karenakan lebih sesuai dengan pertanyaan para Malaikat tentang hikmah penciptaan manusia di muka bumi. [5]

Baca Juga   Apakah Mungkin Seseorang Mencela Kakeknya Sendiri?

Setelah para Malaikat diperintahkan untuk sujud kepada Adam Alaihissallam ,Allah mempersilahkan Adam Alaihissallam untuk tinggal di surga.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga, dan makanlah darinya.”

    Para penindas   الظَّالِمِينَ

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan isterimu di surga ini! Dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. [Al-Baqarah/2:35]

Untuk melengkapi kebahagian Adam Alaihissallam , Allâh Azza wa Jalla menciptakan Hawa yang diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla dari tulang rusuk Adam Alaihissallam yang menemaninya di dalam surga, keduanya diperbolehkan untuk menikmati semua kenikmatan di dalam surga, kecuali memakan satu jenis buah. [6]

Jenis buah yang terlarang bagi Adam Alaihissallam dan Hawa untuk mengkonsumsinya tidak diketahui jenisnya, meskipun sebagian Ulama Menyebutkan beberapa jenis buah, namun selama Allâh Azza wa Jalla tidak menjelaskannya maka memahami ayat tanpa menentukan jenisnya lebih baik. [7]

PELAJARAN PENTING

Semua ketetapan Allâh Azza wa Jalla mengandung hikmah yang terkadang tidak dijelaskan kepada paramakhluk-Nya, sehingga mereka tidak mengetahuinya dengan pasti.

Adam Alaihissallam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla. Dia juga merupakan manusia pertama yang tinggal di muka bumi.

Jin tinggal di muka bumi sebelum manusia dan mereka melakukan kerusakan di atasnya.

Kepatuhan para Malaikat terhadap perintah Allâh dan kekufuran Iblis.

Kesombongan adalah salah satu penyebab Iblis jatuh pada kekufuran dan kemudian keluar dari surga dengan mendapatkan laknat sampai hari berhenti.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIX/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Catatan Kaki

[1] HR. Abu Daud, Bab fil Qadar dan Imam at-Tirmidzi, Bab wa min Sûratil Baqarah

[2] Lihat al-Bidâyah wan Nihâyah dan Tafsir Ibnu Katsir , Surat al-Baqarah/2:30

[3]  Lihat Tafsir Ibnu Katsir

[4] Tafsir Ibnu Katsir

[5] Tafsir Ibnu Katsir .

[6] Para ulama berbeda pendapat tentang jenis buah yang diharamkan untuk di makan itu. Sebagian besar mereka menyebutkan buah anggur dan ada yang menyatakan buah zaitun dan ada yang mengatakan gandum. Lihat al-Bidâyah wan Nihâyah dan tafsir Ibnu Katsir

[7] lihat Tafsir Sûratil Baqarah , Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hlm. 129

Rumah/B2. Topik Bahasan8 Kisah.../Kisah Penciptaan Nabi Adam...

 Hadits Tentang Suami Istri , Hukum Pinjam Uang Dengan Bunga , Apa Itu Tawasul , Tentang Surah Ar Rahman ,

Tipu Daya Setan

Referensi : Article source Ibnu Majah author; Rachmathttps://almanhaj.or

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Kenali Sejarah Muara Enim Mulai Marga Yang Mendiami

Written By Rachmat.M.Flimban on Rabu, Januari 03, 2024 | Rabu, Januari 03, 2024

 


Kenali Sejarah Muara Enim Mulai Marga Yang Mendiami, Hingga APBD-nya Yang Besar

Muara Enim, Juli 1948. Petani karet di Muara Enim membawa getah karet dengan gerobak ditarik oleh se-ekor sapi (instagram/@rajakelir)

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Muara Enim Nomor 47/Deshuk/1972 tanggal 14 Juni 1972, telah ditetapkan bahwa Hari Jadi Kabupaten Muara Enim tanggal 20 November 1946.

Sesuai dengan Surat Edaran Bupati Kepala Daerah Tingkat II Muara Enim Nomor 2642/2/B/1980 tanggal 6 Maret 1980, terhitung tanggal 1 April 1980 nama Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah (LIOT) dikembalikan pada nama semula, yaitu Kabupaten Daerah Tingkat II Muara Enim.

Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Darurat Nomor 4 Tahun 1956 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 55), Undang-Undang Darurat Nomor 5 Tahun 1956 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 56).

Lalu, Undang-Undang Darurat Nomor 6 Tahun 1956 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 57) tentang Pembentukan Daerah Tingkat II termasuk Kotapraja dalam Lingkungan Daerah Tingkat I Sumatera Selatan.

Baca Juga: Investasi Rp226 Triliun, 12 Jalan Tol Ini Akan Hiasi Wajah Indonesia Kedepan

Junto Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 74; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1821) tentang Penetapan Undang-Undang Darurat tersebut di atas sebagai Undang-Undang.

Junto Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 74; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1821) tentang Penetapan Undang-Undang Darurat tersebut di atas sebagai Undang-Undang.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 tersebut di atas, Muara Enim dibentuk menjadi Daerah yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri, dengan

nama Kabupaten Daerah Tingkat II Muara Enim, dengan batas-batas sebagaimana dimaksud dalam Ketetapan Gubernur Provinsi Sumatera Selatan tanggal 20 Maret 1950 Nomor Gb/100/1950.

Selanjutnya sesuai dengan Pasal 121 Undang - Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839) tentang Pemerintahan Daerah, sebutan “Kabupaten Daerah Tingkat II Muara Enim” berubah menjadi Kabupaten Muara Enim.

Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 1990 dan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Nomor 22 Tahun 1990 tanggal 26 November 1990 telah dibentuk dua Wilayah Kerja Pembantu Bupati, meliputi:

1) Wilayah Tanjung Enim dengan pusat kedudukan di Tanjung Enim, mencakup:

a) Kecamatan Muara Enim

b) Kecamatan Tanjung Agung

c) Kecamatan Semende; dan

d) Kecamatan Gunung Megang

2) Wilayah Gelumbang dengan pusat kedudukan di Gelumbang mencakup:

a) Kecamatan Gelumbang

b) Kecamatan Rambang Lubai

c) Kecamatan Rambang Dangku

d) Kecamatan Talang Ubi.

Pada Tahun 1999, berdasarkan Pasal 129 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 3839) tentang Pemerintahan Daerah, Wilayah Kerja/Lembaga Pembantu Bupati dihapus.***

Apabila artikel ini menarik, mohon untuk men-share-kannya kepada teman-teman Anda, terima kasih.

Editor: Rachmat.M

Sumber :Klikanggaran

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Apakah Benar Nabi Dikubur di Masjid Nabawi?

Written By Rachmat.M.Flimban on Sabtu, September 17, 2022 | Sabtu, September 17, 2022

Apakah Benar Nabi Dikubur di Masjid Nabawi?

Pertanyaan:

Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Bagaimana membantah kaum Sufi yang melihat kuburan Nabi sallallāhu 'alaihi wa sallam dan mengatakan bahwa kuburan beliau ada di masjid?”


Jawaban:

https://drive.google.com/drive/folders/15zq22pWb6vTb66iZip-RzWW0g7vk1qMz?usp=sharing

Beliau tidak dikubur di masjid. Kuburan yang ada di dalam masjid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut dulunya adalah ruangan di luar masjid. Rumah-rumah milik Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para istri beliau raḍiyallāhu anhunna ada di luar masjid. Namun masjid saat Umar bin Abdul Aziz raẖimahullāhu taʿalā menjadi pemimpin kota Madinah atas perintah Khalifah agar rumah-rumah tersebut dimasukkan dalam masjid. Akhirnya rumah-rumah tersebut dimasukkan dalam masjid saat Umar bin Abdul Aziz menjadi pemimpin kota Madinah atas perintah Khalifah.

Sumber fatwa: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majd Penjelasan kitab Tauhīd
Sumber artikel: https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18243 PDF Sumber Terjemahan
Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android . Unduh Sekarang!!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

REKENING DONASI :
BANK SYARIAH INDONESIA
7086882242
an YAYASAN YUFID NETWORK

Kode BSI: 451

Doa Pulang Umroh , Percaya Dukun Syirik , Pertanyaan Tentang Nikah , Berapa Lama Darah Istihadhah Keluar , Fadilah Doa Nurbuat , Niat Puasa Bayar Hutang Puasa Ramadhan , Permasalahan Rumah Tangga
Referensi: konsultasisyariah

Penulis Salinan; Rachmat.M.M,a

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Sejarah Hari Guru Diperingati

Written By Rachmat.M.Flimban on Rabu, Agustus 24, 2022 | Rabu, Agustus 24, 2022



Sejarah Hari Guru Diperingati
Sejarah Hari Guru diperingati setiap 25 November,
Masyarakat Indonesia serentak merayakan Hari Guru Nasional.
Peringatan ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden No. 78 Tahun 1994
Tujuan Hari Guru tidak lain untuk menghormati jasa para guru yang telah berjuang mencerdaskan anak bangsa. Berkat perjuangan mereka, Indonesia akhirnya mampu menciptakan generasi unggul dengan SDM berkualitas.
Menurut catatan, pencetusan Hari Guru Nasional dilatarbelakangi oleh berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Karena pristiwa itum Pemerintah akhirnya menetapkan 25 November sebagai HUT PGRI sekaligus peringatan Hari Guru Nasional.
Kedudukan persyaratan  ini dilangsungkan secara serentak setiap tatun, bagaimana. Sejarah Hari Guru Nasional erat kaitannya dengan pencetus PGRI pada tahun 1945.
Awalnya, organisasi ini memiliki nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang beranggotakan kepala sekolah, guru desa, guru bantu, pemilik sekolah dan lainnya.
Mengutip buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Tengah oleh Kemdikbud, PGHB bertujuan untuk menyetarakan hak para guru pribumi. Organisasi ini juga bertekas untuk melawan diskriminasi sosial yang kerap dialami para guru.
Padata 1932, PGHB berencana mengubah namanya menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Hal ini mengejutkan pihak Belanda. Penggunaan kata 'Indonesia' dalam PGI dianggap sebagai bentuk ancaman bagi mereka.
Meski begitu, PGI akhirnya bisa bertahan sampai Belanda pergi dari Indonesia. Sayang, organisasi ini harus berhenti dari segala kegiatannya sejak Jepang memasuki Indonesia dan melarang semua jenis organisasi yang ada.
Setelah proklamasi kemerdekaan INDONESIA pada 17 Agustus 1945, PGRI kembali aktif. Mereka mengadakan Kongres Guru Indonesia untuk pertama kalinya pada 24-25 November di Surakarta, Jawa Tengah.
Dalam kongres ini. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dideklarasikan.
Semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah PGRI.
Karena itu jasa dan perjuangan yang telah dilakukan oleh para guru di Tanah Air, Pemerintah RI melalui Keppres No. 78 Tahun 1994 menetapkan tanggal berdirinya PGRI sebagai Hari Guru Nasional.
Keppres ini dikuatkan dalam UU No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Hingga kini, peringatan Hari Guru Nasional terus dirayakan setiap tahun.
Dikutip/salin dari Sumber ; Fajar Pendidikan.co.id
Penulis; Abu Shareif.Flimban
Copied from the source of the article: author of the copy: Rachmat.Flimban
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Sejarah Urutan Ketua Rukun Tengga (RT)

Written By Rachmat.M.Flimban on Sabtu, Februari 05, 2022 | Sabtu, Februari 05, 2022


 Pembentukan Ketua RT Perum Duta Asri Palem 3

Pada Tanggal 13 Agustus 2013

  1. Ketua Rukun Tetangga Sementara: Somat
  2. Ketua Rukun Tetangga Terpilih 13 Aqustus 2013 : ARANDI
  3. Ketua Rukun Tetangga Terpilih Periode ; Andri ?
  4. Ketua Rukun Tetangga Terpilih Periode Agustus 2019 - 2022 : HIDAYAT MAULANA Periode  Agustus 2019-2022
  5. Ketua Rukun Tetangga Periode 2022 - 2025 Terpilih ?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

 
Support : Blog author | Rachmat.M,MA | Duta Asri Palem 3
Copyright © 2013. PERUM DUTA ASRI PALEM3 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger