Asy Syaafii, Zat Yang Maha Menyembuhkan
Written By Rachmat.M.Flimban on Minggu, Agustus 28, 2022 | Minggu, Agustus 28, 2022
Kategori: Aqidah
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِه وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
“ Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain” (HR Bukhari 535 dan Muslim 2191).
Dalam hadits yang lain dari Abdul Aziz bin Shahib, beliau mengatakan : Aku dan Tsabit datang menemui Anas bin Malik , kemudian Tsabit berkata : “ Wahai Abu Hamzah (kunyah dari Anas bin Malik), aku tersengat binatang. Anas mengatakan : “ Maukah kamu saya bacakan ruqyah dengan ruqyah yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Tsabit berkata : “Tentu”. Kemudian Anas bin Malik membaca doa :
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ, مذْهِبِ الْبَأْس, اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
“ Ya Allah, Rabb manusia Yang Menghilangkan kesusahan, berilah kesembuhan, Engkaulah Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada yang mampu menyembuhkan kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain” (HR Bukhari 541).
Makna Asy Syaafii
Makna dari Asy Syaafii adalah Zat yang mampu memberikan kesembuhan, baik kesembuhan penyakit hati maupun penyakit jasmani. Kesembuhan hati dari penyakit syubhat, keragu-raguan, hasad, serta penyakit-penyakit hati lainnya, dan juga kesembuhan jasmani dari penyakit-penyakit badan. Tidak ada yang mampu memberikan kesembuhan dari penyaki-penyakit tersebut selain Allah Ta’ala. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan yang berasal dari-Nya. Tidak ada yang mampu menyembuhkan kecuali Dia. Hal ini seperti dikatakan Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam dalam Al Qur’an :
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“Dan apabila aku sakit. Dialah (Allah) yang menyembuhkanku” (As Syu’araa: 80). Maksudnya, Allah semata yang memberikan kesembuhan, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam memberikan kesembuhan. Oleh karena itu wajib bagi hamba memiliki keyakinan yang mantap bahwasanya tidak ada yang mampu menyembuhkan kecuali Allah.
Dalam doa Nabi (اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ) terdapat tawasul kepada Allah dengan keumuman rububiyah Allah terhadap seluruh manusia. Dengan penciptaan makhluk, pengaturan segala urusan mereka, serta pergantian yang terjadi pada mereka. Di tangan Allah Ta’ala kehidupan dan kematian, sehat dan sakit, kaya dan miskin, serta kuat dan lemah. Semuanya berada dalam pengaturan Allah Ta’ala dalam rububiyah-Nya.
Dalam doa Nabi (أَذْهِبِ الْبَأْسَ) maksudnya adalah hilangkanlah penyakit dan kesusahan. Dalam lafadz yang lain dari sahabat Anas bin Malik (اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ, مذْهِبِ الْبَأْس). Hal ini merupakan tawasul kepada Allah Ta’ala bahwasanya hanya dialah yang menghilangkan kesusahan. Kesusahan tidak akan hilang dari seorang hamba kecuali dengan izin dan kehendak Allah Ta’ala.
Dalam doa Nabi (وَاشْفِه وأَنْتَ الشَّافِي) terdapat permohonan kesembuhan kepada Allah, yaitu kesehatan dan keselamatan dari penyakit. Bertawasul kepada Allah dengan nama Allah Asy Syaafii yang agung ini menunjukkan keesaan Allah dalam memberikan kesembuhan, dan bahwasanya kesembuhan berasal dari-Nya.
Dalam doa Nabi (لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ) merupakan penegas untuk keyakianan seorang hamba dan agar lebih mengokohkan iman, serta pengulangan bahwasannya kesembuhan tidak dapat terjadi kecuali dari Allah. Pengobatan yang dilakukan seorang hamba jika Allah tidak mengizinkan untuk memberikan kesembuhan dan kesehatan tidak akan memberikan manfaat sedkitpun.
Dalam doa Nabi (لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا) maksudnya tidak tersisa penyakit dan tidak meninggalkan cacat.
Berobat Ketika Sakit, Apakah Bertentangan dengan Tawakal?
Keimanan dan keyakinan bahwasannya yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah semata bukan berarti menjadi penghalang seorang hamba untuk mengambil sebab kesembuhan dengan melakukan pengobatan. Terdapat banyak hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perintah untuk berobat dan penyebutan tentang obat-obat yang bermanfaat. Hal tersebut tidaklah bertentangan dengan tawakal seseorang kepada Allah dan keyakinan bahwasanya kesembuhan berasal dari Allah Ta’ala.
Dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ
“ Semua penyakit ada obatnya. Jika sesuai antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah” (HR Muslim 2204)
Dalam hadits yang lain dari sahabat Abu Hurairah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً
“Tidaklah Allah menurukan suatu penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya” HR Bukhari 5354).
Disebutkan pula dalam Musnad Imam Ahmad dan yang lainnya, dari Usamah bin Syariik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan : “Aku berada di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datang seseorang dan berkata : “ Ya Rasulullah, apakah aku perlu berobat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdabda :
نَعَمْ يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً غير داء واحد قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُوَ قَالَ الْهَرَمُ
“ Ya. Wahai hamba Allah, berobatlah ! Sesungguhnya Allah tidak memberikan penyakit, kecuali Allah juga memberikan obatnya, kecuali untuk satu penyakit. Orang tersebut bertanya : “Ya Rasulullah, penyakit apa itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Penyakit tua”
Dalam riwayat lain disebutkan :
إِنَّ اللهَ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلاَّ وَأَنْزَل لَهُشِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ و جَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ
“ Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya.” (HR Ahmad 4/278 dan yang lainnya, shahih)
Hadits-hadits di atas mengandung penetapan antara sebab dan pemberi sebab, serta terdapat perintah untuk berobat, dan hal tersebut tidaklah meniadakan tawakal seseorang kepada Allah. Hakekat tawakal kepada Allah adalah bersandarnya hati kepada Allah dalam usaha mendapatkan mafaat dan menghindar dari mudharat baik perkara dunia maupun akherat. Penyandaran hati tersebut harus disertai juga dengan mengambil sebab. Seperti halnya untuk menghilangkan rasa lapar dan haus dengan makan dan minum tidak meniadakan iman dan tawakal, demikian pula menghilangkan sakit dengan berobat juga tidak meniadakan tawakal seorang hamba. Bahkan tidak sempurna hakekat tawakal seseorang sehingga dia mengambil sebab yang diperbolehkan secara syar’i maupun kauni. Tidak mengambil sebab dalam bertawakal adalah cacat dan celaan terhadap tawakal itu sendiri.
Dalam sabda Nabi (لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ) merupakan penguat motivasi bagi orang yang sakit maupun dokter atau orang yang memberikan pengobatan, sekaligus dorongan untuk mencari pengobatan.
Termasuk petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau berobat untuk diri beliau sendiri, dan juga memerintahkan keluarga dan sahabatnya untuk berobat ketika sakit. Silakan melihat petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih luas dalam pembahasan dalam pasal “ At Tibbun Nabawi” dalam kitab “Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad” karya Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.
Catatan Penting
Ada hal-hal yang wajib diperhatikan seorang hamba dalam mengambil sebab, yaitu :
Sebab yang diambil adalah sebab yang sudah terbukti secara kauni dan atau syar’i. Maksudnya terbukti secara kauni adalah berdasarkan kebiasaan atau berdasarkan penelitian sebab tersebut dapat berpengaruh. Misalnya makan sebab bisa kenyang, minum sebab hilangnya dahaga, minum obat penurun panas dapat meredakan demam, dan sebagainya. Adapun maksud terbukti secara syar’i adalah sebab tersebut telah disebutkan dalalm Al Qur’an maupun hadits yang shahih. Misalnya, ruqyah dapat menyembuhkan penyakit, bekam bisa digunakan untuk pengobatan, dan lain-lain.
Seseorang tidak bersandar kepada sebab yang dia ambil, akan tetapi harus bersandar kepada pemberi sebab, yaitu Allah Ta’ala.
Seorang harus mengetahui dan meyakini, meskipun sebab yang telah diambil memiliki pengaruh yang kuat dan besar, namun semuanya terjadi hanya dengan izin Allah Ta’ala. Meskipun yang memeriksa dia adalah dokter yang paling ahli dan obat yang dia minum adalah obat yang paling manjur, semua itu tidak akan berpengaruh tanpa izin Allah Ta’ala.
Ketiga hal di atas berlaku dalam semua hal yang kita lakukan. Setiap aktifitas kita tidak terlepas dari mengambil sebab, baik itu untuk meraih manfaat yang kita inginkan atau menghindari mudharat seperti ketika berobat agar sembuh dari penyakit, bekerja mencari rezeki, usaha mendapatkan anak, dan lain sebagainya.
Kesimpulan
Pembahasan ini kami sarikan dari penjelasan tentang nama Allah Asy Syaafii yang terdapat dalam kitab Fiqhul Asmaail Husna karya Syaikh ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin al Badr hafidzahumallah disertai beberapa tambahan keterangan. Ada beberapa faedah yang dapat kita simpulkan dari pembahasan di atas :
Termasuk di antara nama-nama Allah adalah Asy Syaafii yang artinya Zat Yang Maha Menyembuhkan
Allah Zat Yang Maha Menyembuhkan segala penyakit, baik penyakit hati maupun penyakit jasmani.
Dianjurkan untuk mendoakan orang yang sakit sesuai dengan doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Diperbolehkan bertawasul dengan menyebut nama Allah Ta’ala, bahkan hal ini dianjurkan karena Nabi sering berdoa dengan menyebut nama-nama Allah.
Seseorang diperbolehkan berobat tatakala sedang sakit, dan hal ini tidaklah meniadakan tawakal seorang hamba. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang sakit untuk berobat.
Seseorang yang berobat atau periksa ke dokter hendaknya hatinya tetap bersandar kepada Allah dalam mengharapkan kesembuhan dan tidak bersandar kepada obat yang dia minum atau dokter yang memeriksanya.
Seorang dokter atau praktisi pengobatan adalah hanya sebagai sebab, sedangkan yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah Ta’ala. Tidak sepantasnya dia sombong tatkala berhasil menyembuhkan pasiennya.
Demikian pembahasan yang ringkas ini, semoga bermanfaat. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.
Sumber Artikel Muslim.Or.Id
Artikel; DAP3
Penulis.Rachmat.Flimban
aqidah, Arti Jazakallahu Khairan
Written By Rachmat.M.Flimban on Sabtu, April 25, 2020 | Sabtu, April 25, 2020
SalamadianMaret 28, 201728
Jazakallahu Khairan – Arti dari Jazakallahu Khairan adalah Semoga Allah Membalasmu dengan Kebaikan. Kalimat Jazakallah khairan digunakan sebagai bentuk rasa Terima Kasih seorang Muslim terhadap sesama Muslim lainnya yang telah melakukan suatu kebaikan.
Begitupun Jazakumullah Khairan artinya adalah Semoga Allah Membalas Kalian dengan kebaikan.
Makna dari keduanya sama, hanya berbeda dalam penggunaan (lihat sub no 2_).
Bila kita terjemahkan satu per satu. Jazakallah artinya adalah semoga Allah membalasmu.. Membalasmu dengan apa? ya dengan Khairan yang artinya adalah kebaikan.
Kalimat Jazakallah Khairan (dibaca: Jazakallahu_Khairan)atau Jazakumullah Khairan (dibaca: Jazakumullahu_Khairan) saling berhubungan dan penggunaannya tidak bisa dipisahkan menjadi Jazakallah saja, atau khairan saja. Jadi, biasakanlah untuk mengucapkan kalimat yang mengandung do’a ini secara lengkap sesuai yang dicontohkan. bersabda:
⤵
- Arti Jazakallah Khairan (dibaca: Jazakallahu Khairan) adalah Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.
- Arti Jazakumullah Khairan (dibaca: Jazakumullahu Khairan) adalah Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.
- Penggunaan ucapan ini harus disesuaikan dengan subjek lawan bicara. Jazakallahu Khairan (laki- laki tunggal), Jazakillahu Khairan (Perempuan tunggal) dan Jazakumullahu Khairan (Jamak).
- Jawaban dari Ucapan Jazakallahu Khairan adalah dengan mengucapkan kembali kalimat tersebut Wa Jazakallahu Khairan/ Wa Jazakillahu Khairan / Wa Jazakumullahu Khairan. yang artinya Dan Semoga Allah membalasmu juga dengan kebaikan.
- Jawaban lainnya adalah dengan mengucapkan Wa iyyaka (laki-laki tunggal), Wa Iyyaki (perempuan tunggal) dan Wai Iyyakum (jamak)
- Dalam penggunaannya, Lebih baik dicukupkan dengan ucapan “Jazakallahu Khairan” saja, tanpa ada tambahan “katsiran” dsb, sesuai yang tertera dalam Hadits. Meskipun tidak ada pelarangan terhadap hal demikian.
- Sebagai seorang Muslim alangkah lebih baiknya meninggalkan ucapan terima kasih dan menggantinya dengan “Jazakallahu Khairan_” yang mengandung makna ucapan terima kasih sekaligus Do’a didalamnya.
- AkhiArti dari akhi adalah saudariku. Kata ini biasa digunakan sebagai panggilan seseorang pada seoranga laki- laki dalam bentuk tunggal.
- UkhtiSama dengan arti dari Akhi, Ukhti adalah saudariku. Kata ini biasa digunakan pada perempuan dalam bentuk tunggal.
- IkhwanIkhwan adalah bentuk jamak dari Akhir, Arti dari Ikhwan adalah saudara- saudaraku. Kata ini digunakan sebagai panggilan untuk laki laki dalam jumlah banyak (lebih dari 1)
- AkhwatAkhwat adalah bentuk jamak dari ukhit, Arti dari Akhwat adalah saudari- saudariku. Ini digunakan sebagai panggilan pada perempuan dalam jumlah banyak.
- Syukran . SyukronArti dari syukran adalah terima kasih. Digunakan sebagai ucapan kepada seseorang yang telah melakukan kebaikan. Namun untuk sesama Muslim kita dianjurkan untuk mengucapkan “Jazakallahu Khairan” yang artinya Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Ucapan tersebut lebih baik dari syukran karena ia mengandung sebuah Do’a.
- Syafakillah / SyafakallahArti dari syafakillah adalah Semoga Allah menyembuhkanmu. Ungkapan ini biasa digunakan ketika seseorang bertemu atau berjumpa dengan kerabat, keluarga atau teman yang sedang sakit.
- Tafadhdhal / TafadhdhalliArti dari ungkapan diatas adalah Silahkan. Digunakan untuk mempersilahkan orang masuk, duduk, memulai sesuatu dan lain sebagainya.
- Na’am – Iya
- Laa – Tidak
- Ana – Saya
- Anta – Kamu (laki- laki) / Anti – Kamu (Perempuan) /Antum – Kalian (Laki laki)
- Fulan / Fulanah – Seseorang yang tidak diketahui namannya (Si Anu …)
- Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Assalamualaikum (dibaca Assalamu’alaikum) Artinya adalah Semoga Allah melimpahkan Keselamatan, Rahmat dan Keberkahan untukmu. Digunakan ketika berjumpa dengan sesama Muslim lainnya, ketika memasuki suatu ruangan dan sebagainya. - Baarakallah – Semoga Allah Memberkahi.
- Baarakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fi khoyr
Digunakan ketika berjumpa dengan orang yang melangsungkan pernikahan. - Subhanallah – Maha Suci Allah
- Alhamdulillah – Segala Puji Bagi Allah
- Allahu Akbar – Allah Maha Besar
- Masya Allah – Inilah yang dikehendaki Allah
- Insya Allah – Jika Allah Menghendaki
- Wallahu A’lam Bishawab – dan Allah lebih mengetahui yang sebenar-benarnya.
Sebarkan; Jika ingin mencetaknya Klik Tanda Print dibawah ini ⤋

