Kisah Penciptaan Nabi Adam Alaihissallam
Written By Rachmat.M.Flimban on Senin, Januari 29, 2024 | Senin, Januari 29, 2024
Kisah Penciptaan Nabi Adam Alaihissallam
KISAH PENCIPTAAN NABI ADAM ALAIHISSALLAM
Oleh
Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc
Manusia pertama yang diciptakan Allâh Azza wa Jalla adalah Adam Alaihissallam. Beliau Alaihissallam adalah bapak dan nenek moyang seluruh manusia di seluruh dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُ مْ مِنَ الْجَنَّةِ
Wahai anak Adam! Janganlah kalian terfitnah oleh syaithan, sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga [Al-A'râf/7:27]
Allâh Azza wa Jalla menyebutkan dalam ayat di atas bahwa Adam dan pasangannya adalah orang tua seluruh manusia.
Allâh Azza wa Jalla menciptakan Adam Alaihissallam dari segenggam tanah yang Allâh Azza wa Jalla ambil dari seluruh permukaan tanah, maka lahirlah anak Adam yang sesuai dengan asal tanahnya. Di antara mereka ada yang berulit putih, merah, hitam dan perpaduan antara warna-warna tersebut. Diantara meraka ada yang bersifat lembut dan kasar serta perpaduan antara keduanya serta di antara mereka ada yang baik dan jahat. [1]
Sebelum menciptakan Adam Alaihissallam , Allâh Azza wa Jalla terlebih dahulu mengabarkan kepada para Malaikat-Nya bahwa Dia akan menciptakannya manusia di muka bumi. Mendengar ini, para Malaikat bertanya kepada Allâh Azza wa Jalla tentang hikmah penciptaan manusia di muka bumi, padahal para Malaikat terus-menerus beribadah dengan memuji dan bertasbih kepada Allâh Azza wa Jalla tanpa henti dan tidak pernah melakukan durhaka kepada-Nya, sementara manusia ada kemungkinan akan melakukan kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi. Menjawab ini, Allâh Azza wa Jalla mengatakan kepada mereka bahwa Dia Azza wa Jalla lebih mengetahui tentang apa-apa yang tidak diketahui oleh para Malaikat.
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَة ً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَن َحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا ل َا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, “Sejujurnya Aku hendak menjadi seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allâh berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [Al-Baqarah/2:30]
Perkataan para Malaikat tentang kerusakan dan pertumpahan darah yang akan dilakukan manusia di muka bumi berdasarkan apa yang pernah dilakukan jin di muka bumi sebelum Adam Alaihissallam diciptakan. [2]
KEMULIAN ADAM ALAIHISSALLAM
Setelah Adam Alaihissallam diciptakan, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan para Malaikat dan jin untuk sujud kepada Adam Alaihissallam :
Baca Juga : Menebus Siksa
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِي سَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. [Al-baqarah/2:34]
Ini merupakan kemulian yang sangat agung yang Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan kepada Adam Alaihissallam .
Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya, “Allah memerintahkan kepada para Malaikat yang saat itu sedang bersama dengan Iblis, bukan kepada semua malaikat yang ada di langit, 'Sujudlah kepada Adam!' Semua Malaikat itu sujud kepada Adam kecuali Iblis. Dia tidak mau sujud dan menyombongkan diri. Dia mengatakan, 'Saya tidak akan sujud kepadanya. Saya lebih baik daripada dia. Saya lebih tua dan lebih kuat. Engkau telah menciptakan aku dari api sementara Adam, Engkau menciptakan dari tanah.' Iblis memandang bahwa api lebih kuat dari tanah. 3]
Inilah awal mula permusuhan Iblis terhadap Bani Adam.
Sujud yang terkandung pada ayat di atas adalah bentuk penghormatan dan pemuliaan, bukan seperti sujud dalam shalat. Karena sujud yang seperti dalam shalat merupakan hak Allâh yang tidak boleh diberikan kepada selain Allâh Azza wa Jalla . [4]
Bentuk lain dari kemulian yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada nabi Adam Alaihissallam adalah dia diajari seluruh nama-nama benda. Kemulian ini yang Allâh tampakkan di hadapan para Malaikat, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla nyatakan dalam firman-Nya:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَة ِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيٿَ ﴎ ٣١﴾ قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أ َنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian Dia mengemukakannya kepada para Malaikat dan berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!”
Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”
Allâh berfirman, “Hai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah Adam memberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allâh berfirman, “keluarnya sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan?” [Al-Baqarah/2:31-33]
Ibnu Katsir rahimahullah memandang bahwa perintah sujud lebih dulu diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla dibandingkan pengajaran Allâh Azza wa Jalla kepada Adam akan nama seluruh benda. Namun penyebutannya didahulukan sebelum ayat yang diperintahkan sujud, di karenakan lebih sesuai dengan pertanyaan para Malaikat tentang hikmah penciptaan manusia di muka bumi. [5]
Baca Juga Apakah Mungkin Seseorang Mencela Kakeknya Sendiri?
Setelah para Malaikat diperintahkan untuk sujud kepada Adam Alaihissallam ,Allah mempersilahkan Adam Alaihissallam untuk tinggal di surga.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا
Dan Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga, dan makanlah darinya.”
Para penindas الظَّالِمِينَ
Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan isterimu di surga ini! Dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. [Al-Baqarah/2:35]
Untuk melengkapi kebahagian Adam Alaihissallam , Allâh Azza wa Jalla menciptakan Hawa yang diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla dari tulang rusuk Adam Alaihissallam yang menemaninya di dalam surga, keduanya diperbolehkan untuk menikmati semua kenikmatan di dalam surga, kecuali memakan satu jenis buah. [6]
Jenis buah yang terlarang bagi Adam Alaihissallam dan Hawa untuk mengkonsumsinya tidak diketahui jenisnya, meskipun sebagian Ulama Menyebutkan beberapa jenis buah, namun selama Allâh Azza wa Jalla tidak menjelaskannya maka memahami ayat tanpa menentukan jenisnya lebih baik. [7]
PELAJARAN PENTING
Semua ketetapan Allâh Azza wa Jalla mengandung hikmah yang terkadang tidak dijelaskan kepada paramakhluk-Nya, sehingga mereka tidak mengetahuinya dengan pasti.
Adam Alaihissallam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla. Dia juga merupakan manusia pertama yang tinggal di muka bumi.
Jin tinggal di muka bumi sebelum manusia dan mereka melakukan kerusakan di atasnya.
Kepatuhan para Malaikat terhadap perintah Allâh dan kekufuran Iblis.
Kesombongan adalah salah satu penyebab Iblis jatuh pada kekufuran dan kemudian keluar dari surga dengan mendapatkan laknat sampai hari berhenti.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIX/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
Catatan Kaki
[1] HR. Abu Daud, Bab fil Qadar dan Imam at-Tirmidzi, Bab wa min Sûratil Baqarah
[2] Lihat al-Bidâyah wan Nihâyah dan Tafsir Ibnu Katsir , Surat al-Baqarah/2:30
[3] Lihat Tafsir Ibnu Katsir
[4] Tafsir Ibnu Katsir
[5] Tafsir Ibnu Katsir .
[6] Para ulama berbeda pendapat tentang jenis buah yang diharamkan untuk di makan itu. Sebagian besar mereka menyebutkan buah anggur dan ada yang menyatakan buah zaitun dan ada yang mengatakan gandum. Lihat al-Bidâyah wan Nihâyah dan tafsir Ibnu Katsir
[7] lihat Tafsir Sûratil Baqarah , Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hlm. 129
Rumah/B2. Topik Bahasan8 Kisah.../Kisah Penciptaan Nabi Adam...
Hadits Tentang Suami Istri , Hukum Pinjam Uang Dengan Bunga , Apa Itu Tawasul , Tentang Surah Ar Rahman ,
Tipu Daya Setan
Referensi : Article source Ibnu Majah author; Rachmathttps://almanhaj.or
Kenali Sejarah Muara Enim Mulai Marga Yang Mendiami
Written By Rachmat.M.Flimban on Rabu, Januari 03, 2024 | Rabu, Januari 03, 2024
Kenali Sejarah Muara Enim Mulai Marga Yang Mendiami, Hingga APBD-nya Yang Besar
Muara Enim, Juli 1948. Petani karet di Muara Enim membawa getah karet dengan gerobak ditarik oleh se-ekor sapi (instagram/@rajakelir)
Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Muara Enim Nomor 47/Deshuk/1972 tanggal 14 Juni 1972, telah ditetapkan bahwa Hari Jadi Kabupaten Muara Enim tanggal 20 November 1946.
Sesuai dengan Surat Edaran Bupati Kepala Daerah Tingkat II Muara Enim Nomor 2642/2/B/1980 tanggal 6 Maret 1980, terhitung tanggal 1 April 1980 nama Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah (LIOT) dikembalikan pada nama semula, yaitu Kabupaten Daerah Tingkat II Muara Enim.
Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Darurat Nomor 4 Tahun 1956 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 55), Undang-Undang Darurat Nomor 5 Tahun 1956 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 56).
Lalu, Undang-Undang Darurat Nomor 6 Tahun 1956 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 57) tentang Pembentukan Daerah Tingkat II termasuk Kotapraja dalam Lingkungan Daerah Tingkat I Sumatera Selatan.
Baca Juga: Investasi Rp226 Triliun, 12 Jalan Tol Ini Akan Hiasi Wajah Indonesia Kedepan
Junto Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 74; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1821) tentang Penetapan Undang-Undang Darurat tersebut di atas sebagai Undang-Undang.
Junto Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 74; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1821) tentang Penetapan Undang-Undang Darurat tersebut di atas sebagai Undang-Undang.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 tersebut di atas, Muara Enim dibentuk menjadi Daerah yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri, dengan
nama Kabupaten Daerah Tingkat II Muara Enim, dengan batas-batas sebagaimana dimaksud dalam Ketetapan Gubernur Provinsi Sumatera Selatan tanggal 20 Maret 1950 Nomor Gb/100/1950.
Selanjutnya sesuai dengan Pasal 121 Undang - Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839) tentang Pemerintahan Daerah, sebutan “Kabupaten Daerah Tingkat II Muara Enim” berubah menjadi Kabupaten Muara Enim.
Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 1990 dan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Nomor 22 Tahun 1990 tanggal 26 November 1990 telah dibentuk dua Wilayah Kerja Pembantu Bupati, meliputi:
1) Wilayah Tanjung Enim dengan pusat kedudukan di Tanjung Enim, mencakup:
a) Kecamatan Muara Enim
b) Kecamatan Tanjung Agung
c) Kecamatan Semende; dan
d) Kecamatan Gunung Megang
2) Wilayah Gelumbang dengan pusat kedudukan di Gelumbang mencakup:
a) Kecamatan Gelumbang
b) Kecamatan Rambang Lubai
c) Kecamatan Rambang Dangku
d) Kecamatan Talang Ubi.
Pada Tahun 1999, berdasarkan Pasal 129 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3839) tentang Pemerintahan Daerah, Wilayah Kerja/Lembaga Pembantu Bupati dihapus.***
Apabila artikel ini menarik, mohon untuk men-share-kannya kepada teman-teman Anda, terima kasih.
Editor: Rachmat.M
Sumber :Klikanggaran
Kisah Penantian Seorang Anak
Written By Rachmat.M.Flimban on Selasa, Agustus 13, 2019 | Selasa, Agustus 13, 2019
Penantian Seorang Anak
|
Penantian Seorang Anak
Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Hasan, suamiku, memberinya nama Erik. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Aku berniat memberikannya kepada orang lain saja atau dititipkan di panti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.
Namun suamiku mencegah niat buruk itu. Akhirnya dengan terpaksa kubesarkan juga. Di tahun kedua setelah Erik dilahirkan, akupun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Kuberi nama Angel. Aku sangat menyayangi Angel, demikian juga suamiku. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan & membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.
Namun tidak demikian halnya dengan Erik. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Suamiku sebenarnya sudah berkali-kali berniat membelikannya, namun aku selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Suamiku selalu menuruti perkataanku.
Saat usia Angel 2 tahun, Suamiku meninggal dunia. Erik sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya aku mengambil sebuah tindakan yang akan membuatku menyesal seumur hidup. Aku pergi meninggalkan kampung kelahiranku bersama Angel. Erik yang sedang tertidur lelap, kutinggalkan begitu saja. Kemudian aku memilih tinggal di sebuah rumah kecil setelah tanah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun………. telah berlalu sejak kejadian itu.
Kini Aku telah menikah kembali dengan Beni, seorang pria dewasa yang mapan. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Beni, sifat-sifat burukku yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.
Angel kini telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkannya di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Erik dan tidak ada lagi yang mengingatnya.
Sampai suatu malam, aku bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arahku. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali sama Mama!”
Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun aku menahannya,
“Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?”
“Nama saya Elik, Tante.”
“Erik? Erik… Ya Tuhan! Kau benar-benar Erik?”
Aku langsung tersentak bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpaku saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu, seperti sebuah film yang sedang diputar di kepala. Baru sekarang aku menyadari betapa jahatnya perbuatanku dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Erik melintas kembali di pikiranku. “Ya Erik, Mama akan menjemputmu Erik…sabar ya Nak….”
Sore itu aku memarkir mobil biruku di samping sebuah gubuk, dan Beni suamiku dengan pandangan heran menatapku dari samping. “Maryam, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Oh, suamiku, kau pasti akan membenciku setelah kuceritakan hal yang telah kulakukan dulu.” tetapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak.
Ternyata kamma baik berpihak kepadaku. Aku telah mendapatkan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangisku reda, aku pun keluar dari mobil diikuti oleh suami dari belakang. Mataku menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter didepan. Aku mulai teringat betapa gubuk itu pernah kutempati beberapa tahun lamanya dan Erik….. Erik……
Aku meninggalkan Erik di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih aku pun berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.
Namun aku tidak menemukan siapa pun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Aku mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mataku mulai berkaca-kaca, aku mengenali betul potongan kain tersebut, itu bekas baju butut yang dulu dikenakan Erik sehari-hari……
Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, aku pun keluar dari ruangan itu… Air mataku mengalir dengan deras. Saat itu aku hanya diam saja. Sesaat kemudian aku dan suami mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut.
Namun, tiba – tiba aku melihat seseorang di belakang mobil kami. Aku sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali aku tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau ke sini?!”
Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Erik yang dulu tinggal di sini?”
Tiba – tiba Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Erik terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mamaaa…, Mamaaa!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan & mengajaknya tinggal bersama saya.
Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Erik meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…..”
Saya pun membaca tulisan di kertas itu…
“Mama, mengapa Mama tidak pernah kembali lagi…? Mama benci ya sama Erik? Ma…., biarlah Erik yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji kalau Mama tidak akan benci lagi sama Erik. Udah dulu ya Ma, Erik sayaaaang sama Mama, ……”
Aku menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Aku berjanji akan meyayanginya sekarang! Aku tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”
Suamiku memeluk tubuhku yang bergetar sangat keras.
“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Erik telah meninggalkan dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mama-nya datang, Mama-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana … Ia hanya berharap dapat melihat Mamanya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya, kesalahan Anda tidak terampuni!”
Aku kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.
(Sumber: samaggi-phala.or.id
|
Risalah Hati
RINDU
RISALAH HATI RINDU
Seorang anak merindukan orang tuanya yang telah meninggal. Ia bergegas pergi ke kuburannya. Hanya bermodal mushaf Al-Quran yang terhimpit di tangan kanannya.
Tertegun sejenak...jongok...lalu mulai membaca kalam Ilahi selembar demi selembar. Melantunkan do'a seucap demi seucap.
Sedikit demi sedikit alam khayalnya mulai kembali ke masa lalu. Teringat masa-masa indah bersamanya. Ingat kasih sayang, perjuangan dan pengorbanannya yang tanpa pamrih dan batas. Apalagi sosok ibunda tercinta.
Kasihnya tak pernah lekang oleh gesekan waktu...sampai akhir... Matapun mulai berkaca. Air matapun menetes tak mampu tertahan.
Gemuruh tangispun mulai terdengar.
Diusaplah air mata yang menetes dengan ujung bajunya. "Ibu....!, "Ayah...! Adik kangen.....! Ujarnya.
Bakti anak tak akan pernah terhenti untuk orang tuanya walau dipisah oleh maut.
Doa kita, ziarah kita, bacaan Al-Quran kita, sedekah kita...insya Allah bermanfaat bagi mereka. Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :
"Ya Allah ! Anugerahkan kepada kami berupa istri dan anak keturunan kami sebagai penyejuk mata kami dan jadikan kami sebagai pemuka bagi orang-orang yang bertaqwa"
Sumber : Abdullah Al-Jirani
SEDIH!! percakapan Rosulullah dengan malaikat penjaga pintu neraka
Written By Rachmat.M.Flimban on Minggu, November 04, 2018 | Minggu, November 04, 2018
SEDIH!! percakapan Rosulullah dengan malaikat penjaga pintu neraka
Meluruskan Sejarah Bendera Pusaka
Written By Rachmat.M.Flimban on Rabu, Desember 10, 2014 | Rabu, Desember 10, 2014
Meluruskan Sejarah Bendera Pusaka
Bendera pusaka merah putih yang dikibarkan pada Proklamasi 17 Agustus 1945 bukan terbuat dari kain seprai dan tenda warung soto.
DI internet beredar luas informasi mengenai kain bendera pusaka merah putih yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Disebutkan, bendera itu berasal dari kain seprai warna putih dan kain tenda sebuah warung soto warna merah. Keterangan ini berasal dari Lukas Kustaryo, seorang tentara, yang menceritakan pengalamannya kepada majalah Intisari, Agustus 1991. (Baca: Lukas Kustaryo, Kisah Duka Dari Rawagede)
Kustaryo mengklaim telah mengkonfirmasikannya kepada Fatmawati. “Benar, kain merah putih yang saya jahit itulah pemberian saudara,” kata Fatmawati, seperti ditirukan Kustaryo.
Benar atau tidak klaim Kustaryo, wartawan Intisari jelas tak bisa mengkonfirmasikannya kepada Fatmawati yang wafat pada 14 Mei 1980. Yang pasti, Fatmawati sendiri menceritakan dari mana dia mendapatkan kain untuk bendera merah putih dalam bukunya, Catatan Kecil Bersama Bung Karno, Volume 1, yang terbit tahun 1978.
Menurut Fatmawati, suatu hari, Oktober 1944, tatkala kandungannya berumur sembilan bulan (Guntur lahir pada 3 November 1944), datanglah seorang perwira Jepang membawa kain dua blok. “Yang satu blok berwarna merah sedangkan yang lain berwarna putih. Mungkin dari kantor Jawa Hokokai,” kata Fatmawati.
Dengan kain itulah, Fatmawati menjahitkan sehelai bendera merah putih dengan menggunakan mesin jahit tangan,“sebab tidak boleh lagi mempergunakan mesin jahit kaki.”
Pemberian kain sebagai bahan bendera itu agaknya berkaitan dengan pengumuman Perdana Menteri Koiso pada 7 September 1944 bahwa Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia “kelak di kemudian hari.”
Menurut Sukmawati Sukarnoputri, dikutip oase.kompas.com, 24 Juli 2011, Fatmawati menjahit sambil sesekali terisak dalam tangis karena dia tidak percaya Indonesia akhirnya merdeka dan mempunyai bendera serta kedaulatan sendiri.
Siapa perwira Jepang yang mengantarkan kain merah putih kepada Fatmawati?
Perwira tersebut adalah seorang pemuda bernama Chairul Basri. Dia mendapatkannya dari Hitoshi Shimizu, kepala Sendenbu (Departemen Propaganda).
Pada 1978, Hitoshi Shimizu diundang Presiden Soeharto untuk menerima penghargaan dari pemerintah Indonesia karena dianggap berjasa meningkatkan hubungan Indonesia-Jepang. Usai menerima penghargaan, Shimizu bertemu dengan kawan-kawannya semasa pendudukan Jepang.
“Pada kesempatan itulah ibu Fatmawati bercerita kepada Shimizu bahwa bendera pusaka kainnya dari Shimizu,” kata Chairul Basri dalam memoarnya, Apa yang Saya Ingat.
Pada kesempatan lain, waktu berkunjung lagi ke Indonesia, Shimizu menceritakan kepada Chairul Basri bahwa dia pernah memberikan kain merah putih kepadanya untuk diserahkan kepada Fatmawati. Kain itu diperoleh dari sebuah gudang Jepang di daerah Pintu Air, Jakarta Pusat, di depan bekas bioskop Capitol. “Saya diminta oleh Shimizu untuk mengambil kain itu dan mengantarkannya kepada ibu Fatma,” kenang Chairul.
Tiba saatnya proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Ketika Fatmawati akan melangkahkan kaki keluar dari pintu rumahnya terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada. “Kemudian aku berbalik mengambil bendera yang aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu. Bendera itu aku berikan pada salah satu yang hadir di tempat depan kamar tidur. Nampak olehku di antara mereka adalah Mas Diro (Sudiro ex walikota DKI), Suhud, Kolonel Latif Hendraningrat. Segera kami menuju ke tempat upacara, paling depan Bung Karno disusul oleh Bung Hatta, kemudian aku,” kata Fatmawati.
Setelah Sukarno membacakan proklamasi, Latif Hendraningrat dan Suhud kemudian mengerek bendera pusaka merah putih.
OLEH: HENDRI F. ISNAENI
Diposkan oleh Thamrin Mahesarani di http://mahesarani.blogspot.com/2014/09/meluruskan-sejarah-bendera-pusaka.html




