TERJEMAH KITAB KITAB PUASA
Written By Rachmat.M.Flimban on Minggu, Januari 21, 2024 | Minggu, Januari 21, 2024
Terjemah Kitab Puasa dari Shahih Muslim
Daftar Isi
- Bab keutamaan bulan Ramadan
-
Bab wajib berpuasa Ramadhan karena melihat hilal dan berbuka karena melihat hilal dan jika tertutup awan pada awal berpuasa atau akhir berpuasa, maka disempurnakan hitungan bulan menjadi tiga puluh hari
-
Bab: “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari”
- Bab satu bulan bisa dua puluh sembilan hari
-
Bab penjelasan bahwa setiap negeri memiliki rukyat sendiri dan bahwa apabila mereka telah melihat hilal, maka hukumnya tidak berlaku bagi negeri yang jauh dari mereka
-
Bab tenggang waktu hilal untuk dapat dilihat
-
Bab penjelasan makna sabda Nabi shallallahu ta’ala ‘alaihi wa sallam, “Dua bulan hari raya tidak berkurang”
-
Bab penjelasan bahwa mulainya puasa terjadi dengan terbitnya fajar, bahwa boleh baginya untuk makan atau selainnya sampai fajar terbit, penjelasan sifat fajar yang berkaitan dengan hukum-hukum mulainya puasa dan masuknya waktu salat Subuh serta selain itu
-
Bab keutamaan sahur, penekanan disukainya sahur, dan disukai mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka
- Bab penjelasan waktu selesainya puasa dan keluarnya waktu siang
- Bab larangan menyambung puasa,
- Bab penjelasan bahwa mencium ketika puasa tidak diharamkan bagi siapa saja yang tidak terangsang syahwatnya
- Bab sahnya puasa siapa saja yang masih dalam keadaan junub ketika fajar terbit
- kerasnya pengharaman jimak di siang hari bulan Ramadan bagi orang yang berpuasa, wajibnya kafarat yang besar padanya, dan bahwa kafarat tersebut wajib bagi orang yang memiliki kelapangan maupun kesulitan serta tetap menjadi tanggungan orang yang kesulitan sampai dia mampu
- 15Bab bolehnya puasa atau tidak puasa di bulan Ramadan bagi orang yang menempuh perjalanan selain maksiat apabila jarak perjalanannya dua marhalah atau lebih dan bahwa lebih utama bagi siapa saja yang mampu tanpa ada kesulitan untuk berpuasa dan lebih utama bagi siapa saja yang kepayahan untuk tidak berpuasa
- Bab pahala orang yang berbuka ketika perjalanan apabila dia menangani suatu pekerjaan
- Bab pilihan untuk berpuasa atau tidak ketika safar
- Bab disukai tidak berpuasa bagi orang yang haji pada hari Arafah
- Bab puasa hari Asyura
- Bab hari apa saja disyariatkan puasa Asyura
- Bab barang siapa sudah makan di hari Asyura maka ia menahan diri di sisa hari
- Bab larangan puasa di hari Idulfitri dan Iduladha
- Bab pengharaman puasa hari-hari tasyriq
- Bab dibencinya puasa hari Jumat secara bersendirian
- Bab penjelasan penghapusan hukum firman Allah taala, “Dan wajib bagi orangorang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah” (QS Al-Baqarah: ) dengan firman-Nya, “Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS Al-Baqarah: )
- Bab kada puasa Ramadan di bulan Syakban
- Bab qadha` puasa bagi mayit
-
Bab orang yang sedang berpuasa diundang makan, agar mengucapkan: Sesungguhnya aku berpuasa
- Bab menjaga lisan bagi orang yang berpuasa.
- Bab keutamaan puasa
- Bab keutamaan berpuasa di jalan Allah bagi siapa saja yang mampu asal tidak ada kemudaratan dan tidak ada pengabaian tugas
- Bab bolehnya puasa sunah dengan niat di siang hari sebelum matahari mulai turun dan bolehnya berbuka bagi orang yang berpuasa sunah tanpa ada uzur.
- Bab makan, minum, dan jima’nya orang yang lupa tidak membatalkan puasa.
- Bab puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di selain bulan Ramadan dan disukainya untuk tidak melewatkan satu bulan dari puasa
- Bab larangan dari puasa sepanjang tahun bagi siapa saja yang dimudaratkan karenanya atau yang mengakibatkan luput dari suatu hak atau bagi yang tidak berbuka pada dua hari raya dan hari tasyrik, serta penjelasan lebih utamanya puasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari
- Bab disukainya puasa tiga hari pada setiap bulan, puasa hari Arafah, Asyura, Senin, dan Kamis
- Bab puasa di akhir bulan Syakban
- Bab keutamaan puasa bulan Muharam
- Bab disukainya puasa enam hari di bulan Syawwal mengiringi puasa Ramadhan
- Bab keutamaan lailatulkadar, anjuran untuk mencarinya, dan penjelasan saatnya dan waktu-waktu yang paling diharapkan untuk mencarinya
Doa Ketika Melihat yang Lain Tertimpa Musibah atau Penyakit
Written By Rachmat.M.Flimban on Selasa, Desember 19, 2023 | Selasa, Desember 19, 2023
Doa Ketika Melihat yang Lain Tertimpa Musibah atau Penyakit
Amalan
Kalau ada orang yang tertimpa musibah apa pun, sakit berat, sampai pada musibah dalam hal agama, maka kita baiknya mengamalkand doa berikut agar tidak tertimpa cobaan sepertinya.
Dari Ibnu ‘Umar, dari bapaknya ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ رَأَى صَاحِبَ بَلاَءٍ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى عَافَانِى مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِى عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً إِلاَّ عُوفِىَ مِنْ ذَلِكَ الْبَلاَءِ كَائِنًا مَا كَانَ مَا عَاشَ
“Siapa saja yang melihat yang lain tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan,
‘Alhamdulillahilladzi ‘aafaani mimmab talaaka bihi, wa faddhalanii ‘ala katsiirim mimman khalaqa tafdhilaa’
Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari musibah yang menimpamu dan benar-benar memuliakanku dari makhluk lainnya.
Kalau kalimat itu diucapkan, maka ia akan diselamatkan dari musibah
tersebut, musibah apa pun itu semasa ia hidup.” (HR. Tirmidzi, no. 3431;
Ibnu Majah, no. 3892. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini
dha’if dan penguatnya, syawahidnya juga dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan
bahwa hadits ini hasan)
Dalam riwayat di atas ada kalimat lanjutan,
وَقَدْ رُوِىَ عَنْ أَبِى جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِىٍّ أَنَّهُ قَالَ إِذَا رَأَى صَاحِبَ بَلاَءٍ فَتَعَوَّذَ مِنْهُ يَقُولُ ذَلِكَ فِى نَفْسِهِ وَلاَ يُسْمِعُ صَاحِبَ الْبَلاَءِ.
Diriwayatkan dari Abu Ja’far bin ‘Ali bahwa ia berkata, “Jika ada yang melihat yang lainnya tertimpa musibah, maka memintalah perlindungan (pada Allah) darinya. Hendaklah ia mengucapkan bacaan tadi, namun jangan sampai didengar oleh orang yang tertimpa musibah.”
Penulis Tuhfatul Ahwadzi (9: 375), Syaikh Muhammad ‘Abdurrahman Al-Mubarakfuri berkata bahwa maksud dari melihat yang lain yang tertimpa musibah, yaitu musibah yang menimpa badan seperti lepra, cebol (terlalu pendek), jangkung (terlalu tinggi), buta, pincang, tangan bengkok, dan semacamnya. Juga yang dimaksud adalah musibah yang menimpa agama seseorang, seperti kefasikan, kezaliman, terjerumus dalam bid’ah, kafir dan selainnya.
Diterangkan pula di halaman selanjutnya dalam kitab yang sama, baiknya doa tadi diucapkan lirih di hadapan orang yang tertimpa musibah dunia (seperti tertimpa penyakit), termasuk juga yang tertimpa musibah agama apalagi kalau ada dampak negatif jika diucapkan di hadapannya. Namun bisa jadi doa tadi dikeraskan di hadapan orang yang tertimpa musibah agama (orang fasik, misalnya, pen.) agar melarang dari maksiat yang dilakukan sehingga ia bisa tercegah (sadar).
Moga Allah beri taufik untuk mengamalkan doa di atas.
Referensi:
Jami’ At-Tirmidzi. Cetakan tahun 1430 H. Abu ‘Isa At Tirmidzi. Takhrij: Abu Thahir Zubair ‘Ali Zai. Penerbit Dar As-Salam.
Tuhfah Al-Ahwadzi. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Syaikh Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Fayha’.
Maktabah Syamilah.
Disusun @ DS, Panggang, Gunungkidul, 4 Rabi’ul Awwal 1438 H
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat
Play Store di sini.
Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran
Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel
Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom
Sumber https://rumaysho.com/14975-doa-ketika-melihat-yang-lain-tertimpa-musibah-atau-penyakit.html
Penulis Salinan ini, Rachmat.M.M
Doa Untuk Orang yang Sakit SURAT AL-KAFIRUN
Written By Rachmat.M.Flimban on Sabtu, April 01, 2023 | Sabtu, April 01, 2023
Doa Untuk Orang yang Sakit SURAT AL-KAFIRUN
Surat Al-Kafirun adalah surah makkiyah dan masuk ke dalam kelompok surah al-mufasshal. Terdiri dari 6 ayat yang seluruh ayatnya berisi kewajiban seorang muslim untuk berlepas diri dari segala macam bentuk kesyirikan. Surat Al-Kafirun memiliki beberapa nama, di antaranya surah Al-Kafirun, surah Al-Ikhlas, dan surah Al-Muqasyqisyah. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Jauhari rahimahullahu ketika menukil perkataan Al-Ashma’i rahimahullahu,
وكان يقال لِ “قُلْ يا أيُّها الكافرونَ” و “قلْ هو الله أحدٌ”: المُقَشْقِشَتانِ، أي أنَّهما تُبْرِئانِ من النفاق
“Surah Al-Kafirun dan surah Al-Ikhlas memiliki sebutan Al-Muqasyqisyatain, yakni bahwasanya keduanya membebaskan diri dari kemunafikan.” (As-Shihah Taaj Al-Lughah, 3: 1016)
Sebab turunnya surat Al-Kafirun
Surat Al-Kafirun turun sebagai jawaban atas ‘penawaran’ orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama agar beliau berkenan bergantian beribadah dengan cara mereka dan cara Islam. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
أن قريشا وعدوا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يعطوه مالا فيكون أغنى رجل بمكة ، ويزّوجوه ما أراد من النساء ، ويطئوا عقبه ، فقالوا له : هذا لك عندنا يا محمد ، وكفّ عن شتم آلهتنا ، فلا تذكرها بسوء ، فإن لم تفعل فإنا نعرض عليك خصلة واحدة ، فهي لك ولنا فيها صلاح . قال : ما هي ؟ قالوا : تعبد آلهتنا سنة : اللات والعزي ، ونعبد إلهك سنة ، قال : حتى أنْظُرَ ما يأْتي مِنْ عِنْدِ رَبّي . فجاء الوحي من اللوح المحفوظ : (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) السورة، وأنزل الله : (قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ) … إلى قوله : (فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ)
“Orang-orang Quraisy menjanjikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama harta yang melimpah sehingga beliau menjadi orang terkaya di Makkah, menjanjikan akan menjodohkan beliau dengan siapapun yang beliau pilih, agar beliau berhenti berdakwah. Mereka mengatakan, “Ini akan menjadi milikmu, wahai Muhammad. Akan tetapi, tahan lisanmu dari mencela tuhan-tuhan kami atau mengatakan yang tidak baik tentang mereka. Jika masih tidak mau, kami ada penawaran, mungkin ini penawaran terbaik untuk kami dan untukmu.”
(Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama) pun menjawab, “Apa itu?” (Mereka menukas), “Bagaimana jika selama setahun engkau menyembah tuhan kami (Al-Laat dan Al-Uzza) dan di tahun berikutnya kami menyembah tuhanmu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallama pun menjawab, “Lihat saja sampai aku mendengar langsung dari Rabbku.” Maka, turunlah surat Al-Kafirun dan ayat 64-66 surah Az-Zumar.” (HR. Ibnu Abi Hatim dalam At-Tafsir 10: 3471, At-Thabari dalam Jaami’ Al-Bayaan 24: 703, dan At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Shaghir no. 751)
Hanya saja riwayat ini dilemahkan dengan sebab bersendirinya Abdullah bin Isa Al-Khazzaz dalam meriwayatkan dari Dawud bin Abi Hind. Ibnu Hajar rahimahullahu mengatakan bahwa beliau (Abdullah bin Isa) lemah (Taqriib at-Tahdziib, hal. 317).
Begitu pun riwayat-riwayat lain yang juga dinilai lemah, namun saling menguatkan satu sama lain dan tidak terdapat makna yang salah. Sehingga sebagian ulama seperti Syekh Al-Albani rahimahullahu menguatkannya.
Keutamaan surat Al-Kafirun
Di antara keutamaan surat Al-Kafirun yang disebutkan dalam beberapa hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama adalah:
Pertama: Mengandung makna berlepas diri dari kesyirikan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda,
إِذَا أَوَيْتَ إِلَى مَضْجَعِكَ، فَاقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ إِلَى خاَتِمَتِهَا؛ فَإنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشَّركِ
“Jika engkau hendak tidur, bacalah surah Al-Kafirun hingga selesai. Karena surat tersebut mengandung bentuk berlepas dirinya seorang hamba dari segala macam bentuk kesyirikan.”
Kedua: Mengikui sunah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dengan membacanya di beberapa salat. Seperti dua rakaat sebelum salat Subuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
إِنَّ رَسُولَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama membaca di dalam dua rakaat sebelum salat Subuh dengan surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.” (HR. Muslim no. 726)
Atau ketika salat sunah Tawaf, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلي الله عليه وسلم قَرَأَ فِي رَكْعَتَي الطَّوَافِ بِسُورَتَيِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama salat sunah Tawaf dengan membaca Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.” (HR. Muslim no. 1218)
Dan lain-lain.
Kandungan makna surat Al-Kafirun
Ayat 1
Allah ‘Azza Wajalla berfirman,
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
“Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir.”
Di ayat ini Allah ‘Azza Wajalla menyeru kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama agar menegaskan prinsip seorang muslim kepada orang-orang kafir yang datang kepada beliau membawa penawaran untuk beribadah kepada selain-Nya.
Allah berfirman dengan (قل) dalam rangka menghilangkan rasa berat hati di hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama untuk menyampaikan hal tersebut, karena hal itu langsung dari Allah ‘Azza Wajalla.
Dan secara tidak langsung juga memberikan pengajaran bahwa permasalahan akidah dan keyakinan adalah berasal dari Allah ‘Azza Wajalla dan bukan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama. Seperti dalam beberapa firman Allah berikut ini,
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Katakanlah (hai Muhammad) bahwa Allahlah tuhan yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1)
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah, kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ ” (QS. Ali Imran: 64)
Ayat 2 dan 3
Allah ‘Azza Wajalla berfirman,
لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.”
Di dalam dua ayat ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan seorang muslim harus benar-benar berlepas dari segala macam bentuk peribadahan. Baik di masa sekarang maupun akan datang. Allah ‘Azza Wajalla berfirman mengisahkan bagaimana Yakub ‘alaihissalam berpesan kepada anak-anaknya menunjukkan urgensi untuk tegas dalam urusan tauhid,
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’” (QS. Al-Baqarah: 133)
Ayat kedua dan ketiga hampir mirip, hanya saja ayat kedua menegaskan bahwa tidak ada sedikit pun kemungkinan kami (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dan kaum muslimin) akan turut serta dalam peribadahan kepada selain Allah. Ayat ketiga menegaskan bahwa tatkala mereka (orang-orang musyrik) beribadah kepada sesuatu selain bagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama beribadah, maka perbuatan mereka bukan termasuk ibadah.
Ayat 4 dan 5
Allah ‘Azza Wajalla berfirman,
وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.”
Di dalam dua ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa Nabi tidak pernah mengibadahi sesembahan orang-orang kafir. Begitu pun sebaliknya, orang-orang kafir tidak pernah mengibadahi Allah Ta’ala. Dengan demikian, ayat 2 hingga ayat 5 dengan jelas menyebutkan sanggahan kepada orang-orang kafir bahwa baik di waktu lampau, waktu sekarang, atau yang akan datang, peribadahan kaum muslimin dan orang-orang kafir tidak akan pernah dalam satu tujuan.
Ayat 6
Allah ‘Azza Wajalla berfirman,
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”
Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa kekufuran dan tauhid berada di agama yang berbeda. Dengan demikian, melalui ayat ini, sempurnalah pelepasdirian Islam dan kaum muslimin dari segala macam bentuk peribadahan dan sesembahan selain apa yang telah syariat Islam tetapkan. Demikian pula, tidak selayaknya seorang muslim memiliki keyakinan bahwa agama-agama di dunia ini sama atau bahkan benar semua. Akan tetapi, wajib baginya untuk meyakini bahwa Islam-lah satu-satunya agama yang diridai di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.
Baca juga: Keutamaan dan Kandungan Surat Ad-Dhuha
—
Penulis: Rachmat.M.Flimban
Disalin dari Sumber Artikel: Muslim.or.id
Penulis; Muhammad Nur Faqih.S.Ag
© 2023 muslim.or.id
.jpg)


