Latest Post

Apakah Kudeta Sama Dengan Makar? Ulasan Lengkap

Written By Rachmat.M.Flimban on Jumat, Februari 09, 2024 | Jumat, Februari 09, 2024

Apakah Kudeta Sama Dengan Makar? Ulasan Lengkap

 


Apakah Kudeta Sama Dengan Makar?Ulasan Lengkap

Apakah Kudeta Sama Dengan Makar?
Ulasan Lengkap

Terima kasih atas pertanyaan yang sangat menarik ini. Kudeta atau makar pada dasarnya sebuah istilah yang dapat digunakan secara bergantian. Namun secara umum, kudeta lebih merujuk pada istilah politik sementara makar merujuk pada istilah hukum.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kudeta adalah kata kerja yang berarti perebutan kekuasaan (pemerintahan) dengan paksa. Sementara, dalam Wikipedia dijelaskan bahwa kudeta adalah sebuah tindakan pembalikan kekuasaan terhadap seseorang yang berwenang dengan cara illegal dan sering kali bersifat brutal, inkonstitusional berupa "penggambilalihan kekuasaan", "penggulingan kekuasaan" sebuah pemerintahan negara dengan menyerang (strategis, taktis, politis) legitimasi pemerintahan kemudian bermaksud untuk menerima penyerahan kekuasaan dari pemerintahan yang digulingkan. Pada dasarnya kudeta adalah sebuah perbuatan pidana namun perbuatan pidana akan lenyap apabila kudeta sukses karena adanya legitimasi politik dari rakyat dan militer.
Pada sisi lain, dalam hukum pidana istilah yang dikenal adalah makar. Tindak pidana makar masuk ke dalam rumpun kejahatan terhadap keamanan Negara. Secara teoritis, makar yang dikenal oleh umum adalah makar yang ditujukan ke dalam negeri yang dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu makar terhadap keselamatan Presiden dan Wakil Presiden, terhadap wilayah Negara, dan terhadap pemerintahan. Ketiga perbuatan ini diatur dalam Pasal 104, Pasal 106, dan Pasal 107 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”)
Bentuk tindak pidana yang tepat dalam konteks kudeta adalah makar untuk menggulingkan pemerintahan seperti yang diatur dalam Pasal 107 KUHP yang berbunyi :
“(1) Makar dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
(2) Para pemimpin dan pengatur makar tersebut dalam ayat 1, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.”
Makar dalam rumusan delik ini adalah penggantian pemerintahan dengan cara yang tidak sah yang tidak berdasarkan saluran yang ditetapkan dalam ndang-undang. Oleh Karena itu, tindak pidana makar baru dapat dikenakan apabila memenuhi syarat yang diatur dalam Pasal 87 KUHP. Pasal 87 KUHP menegaskan bahwa tindak pidana makar baru dianggap terjadi apabila telah dimulainya perbuatan-perbuatan pelaksanaan dari si pembuat makar.
Jika merujuk pada berita-berita media beberapa waktu lalu, tindakan orang yang “dianggap makar” barulah sebatas rencana untuk mengadakan demonstrasi-demonstrasi. Untuk itu, rumusan dan syarat delik ini tidak dapat terpenuhi.
Dasar hukum: Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Di Kutip dari Sumber Artikel; hukumonline
Penulis; Rachmat.


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

KEUTAMAAN MENASEHATI KAUM MUSLIM BAG.1

Written By Rachmat.M.Flimban on Rabu, Januari 31, 2024 | Rabu, Januari 31, 2024


 Keutamaan Menasihati Kaum Muslimin (Bag.1)

Muhammad Zia Abdurrofi oleh Muhammad Zia Abdurrofi

Nasihat adalah suatu hal yang sarat akan ajaran agama Islam. Agama Islam sangat masyhur terhadap keistimewaannya berupa nasihat. Sejatinya nasihat tidak hanya dibutuhkan oleh hati-hati yang lalai atau hati-hati yang sudah mulai merunduk kepada dosa dan maksiat. Nasihat juga dibutuhkan oleh jiwa-jiwa yang mulai berpaling dari Allah dan Rasul-Nya, juga sebagai pengingat untuk senantiasa mengamalkan amalan-amalan saleh dan meninggalkan maksiat. Bahkan, nasihat ini menjadi hal yang sangat ditekankan dalam agama ini. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلۡعَصۡرِ ( ١ ) إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِى خُسۡرٍ ( ٢ ) إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ( ٣ )

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkategorikan nasihat termasuk dari enam hal yang menjadi hak sesama muslim. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

“Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara.” Lalu, beliau ditanya, “Apa enam perkara itu, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Bila engkau bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya. Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya. Bila dia meminta nasihat, berilah dia nasihat. Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, doakanlah semoga dia memperoleh rahmat. Bila dia sakit, kunjungilah dia. Dan bila dia meninggal dunia, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.” (HR. Muslim no. 4023)

Karena pentingnya tentang nasihat ini, terdapat sebuah risalah yang ditulis oleh Syekh Prof. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaily hafidzahullah yang berjudul “Fadhlu An-Nushi Lil-Muslimin” (Keutamaan menasihati kaum muslimin). Risalah yang ditujukan untuk kaum muslimin secara umum dan secara khusus untuk para penuntut ilmu dan para da’i sebagai tumpuan dalam menapaki jalan-jalan dakwah yang terjal dan penuh rintangan. Agar tetap kuat dan bersabar dalam menasihati dan membimbing kaum muslimin kepada jalan kebenaran.

Nasihat adalah perangai keimanan

Sesungguhnya nasihat adalah perangai teragung dari keimanan. Terlihat jelas bahwa orang-orang yang beriman sangat cinta terhadap nasihat sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam surah Al-‘Ashr. Sebaliknya, orang-orang kafir tidak suka terhadap nasihat. Allah Ta’ala berfirman menghikayatkan perkataan Nabi Shalih ‘alaihissalam,

وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَـٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّـٰصِحِينَ

“Dan aku telah memberi nasihat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (QS. Al-A’raf: 79)

Nasihat adalah karakteristik orang-orang mulia

Nasihat adalah karakteristik orang-orang yang mulia. Karena orang-orang yang mulia pasti mencintai sebuah nasihat. Nasihat merupakan bukti dari sebuah kejujuran, ketulusan, dan bukti dari sebuah cinta. Karena jika seseorang mengetahui sebuah kebaikan, dia ingin orang lain mengetahui dan melakukan kebaikan yang serupa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 12)

Fitrah orang beriman adalah menyukai nasihat

Hal ini merupakan fitrah dari orang yang beriman. Karena orang yang beriman akan mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Ketika dia mengetahui sebuah kebaikan, maka tentu dia pun senang tatkala saudaranya mengetahui kebaikan yang sama. Sebaliknya orang yang rusak fitrahnya, ia tidak akan menyukai nasihat. Bahkan, sulit baginya untuk menerima nasihat. Sehingga, kewajiban kita untuk menasihatinya. Kalau ia tidak ingin menerima nasihat, maka kita tidak lagi menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman,

فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ

“Oleh sebab itu, berikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat.” (QS. Al ‘Ala: 9)

Sebagian ulama menafsirkan إنْ dengan syarthiyyah. Sehingga, maknanya adalah berikanlah manfaat jika peringatan itu bermanfaat. Jika peringatan itu tidak bermanfaat, maka jangan berikan kembali peringatan atau nasihat tersebut. Namun, sejatinya manfaat itu akan kembali kepada orang yang menasihati, baik nasihat itu diterima ataupun tidak. (Lihat Tafsir Juz ‘Amma, hal.164 karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)

Nasihat merupakan lambang dari kasih sayang

Nasihat merupakan sebuah lambang dari kasih sayang. Sebagaimana orang tua yang sayang dan cinta kepada anak-anaknya, tentu ia akan menasihati anaknya untuk senantiasa melakukan kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan. Tidak membiarkan anak-anaknya tenggelam di dalam dosa dan maksiat. Suami yang cinta terhadap istrinya, ia akan senantiasa memberikan arahan dan nasihat terhadap istrinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Malik bin Huwairits ketika hendak pulang ke kampungnya,

ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ

“Kembalilah kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka. Ajarilah mereka dan perintahkan (untuk salat).” (HR. Bukhari no. 631)

Nasihat merupakan tanda seseorang memperoleh taufik

Nasihat juga merupakan tanda seseorang memperoleh taufik dari Allah Ta’ala. Di antara tanda-tanda seseorang mendapatkan taufik adalah seseorang berusaha untuk memberikan nasihat. Di antaranya juga adalah seseorang menerima nasihat. Dalam menerima nasihat, manusia terbagi menjadi empat tingkatan:

Pertama: Menasihati dan menerima nasihat. Dan ini adalah tingkatan yang paling utama.

Kedua: Tidak menasihati dan tidak menerima nasihat. Dan ini adalah tingkatan yang paling buruk

Ketiga: Tidak menasihati dan menerima nasihat.

Keempat: Menasihati dan tidak menerima nasihat.

Baca juga: Nasihat untuk Para Pencari Kerja

Nasihat merupakan hakikat dari agama

Dan nasihat merupakan hakikat dari agama yang sesungguhnya. Karena agama Islam dibangun di atas nasihat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55)

Dalil-dalil bahwasanya para nabi dan rasul memiliki karakter penasihat

Oleh karena itu, para nabi dan rasul memiliki karakter sebagai “penasihat”. Allah Ta’ala mengabarkan tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam tatkala berbicara dengan kaumnya. Allah berfirman,

أُبَلِّغُكُمۡ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّى وَأَنصَحُ لَكُمۡ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

“Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku. Dan aku memberi nasihat kepadamu. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 62)

Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Hud ‘alaihis salam,

أُبَلِّغُڪُمۡ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّى وَأَنَا۟ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ

“Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (QS. Al-A’raf: 68)

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Shalih ‘alaihis salam,

فَتَوَلَّىٰ عَنۡہُمۡ وَقَالَ يَـٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُڪُمۡ رِسَالَةَ رَبِّى وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَـٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّـٰصِحِينَ

“Maka, Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.'” (QS. Al-A’raf: 79)

Dalil-dalil dari sahabat Nabi tentang nasihat

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum juga berbaiat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menunaikan nasihat kepada kaum muslimin. Sebagaimana dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“Aku telah membai’at Rasulullah untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan menasihati kepada setiap muslim.” (HR. Bukhari no. 524 dan Muslim no. 56)

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

إِنِّي أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ أُبَايِعُكَ عَلَى الْإِسْلَامِ فَشَرَطَ عَلَيَّ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ فَبَايَعْتُهُ عَلَى هَذَا

“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku berkata, ‘Aku membai’at engkau untuk Islam.’ Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi syarat, ‘Dan menasihati kepada setiap muslim.’ 

Maka, aku membai’at beliau untuk perkara itu.” (HR. Bukhari no. 58)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang nasihat

Mengingat betapa agungnya kedudukan nasihat dalam agama, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan agama dengan nasihat, karena nasihat mencakup agama. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama itu adalah nasihat.”

قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

Kami bertanya, “Nasihat untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin, serta kaum awam mereka.” (HR. Muslim no. 55)

Nasihat merupakan bukti akan kejujuran. Sebagaimana lawan kata dari “nasihat”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang al-ghisy (penipuan) yang menafikan nasihat. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa menghunuskan pedang untuk menyerang kami, maka dia bukan dari golongan kami. Dan barangsiapa yang menipu kami, maka dia bukan golongan kami.” (HR. Muslim no. 101)

Abu Bakr unggul karena sebab nasihat

Dengan sebab nasihat, para sahabat dan para salaf mendahului orang-orang saleh yang lain. Bakr bin Abdillah Al-Muzaniy [1] rahimahullah pernah berkata,

مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِيْ صَدْرِهِ

“Abu Bakr tidak mendahului mereka (sahabat yang lain) dalam hal banyaknya puasa dan salat. Akan tetapi, Abu Bakr mendahului mereka dari keimanan yang menetap di dalam hatinya.” (Lihat Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, hal. 48. Lihat juga Latha’iful Ma’arif, hal. 254)

Sebagian ulama menjelaskan perkataan di atas dengan mengatakan,

الذِّي وَقَرَ فِي صَدْرِهِ هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيْحَةِ لِخَلْقِهِ

“Yang menetap kuat di dalam hati Abu Bakr adalah kecintaan kepada Allah dan mencintai untuk menasihati hamba-hamba-Nya.” (Lihat Latha’iful Ma’arif, hal. 254)

[Bersambung]

Baca juga: Nasihat bagi Penuntut Ilmu

***

Depok, 22 Januari 2024/10 Rajab 1445

Penulis: Muhammad Zia Abdurrofi

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Syekh Ibrahim menulis perkataan ini dari Abu Bakr Al-Maziniy. Syaikhul Islam menyebutkan dalam kitab Minhajus Sunnah (6: 223) dari Abu Bakr bin ‘Ayyasy. Di dalam Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid (hal. 48) disebutkan dari Bakr bin Abdillah Al-Muzaniy. Demikian pula yang disebutkan Ibnu Rajab dalam Latha’iful Ma’arif. Lihat juga Tafsir Suratul Ahzab karya Syekh Ibnu Utsaimin (hal. 104). Barangkali yang benar adalah Bakr Al-Muzaniy sebagaimana asalnya Syekh menukil dari kitab Latha’iful Ma’arif (hal. 254).

Tags: NASIHAT

Pendaftaran MUBK Februari 2024

Muhammad Zia Abdurrofi

Muhammad Zia Abdurrofi

- Alumni Ma'had Aly Ulun Nuha Medan Jurusan Bahasa Arab - Alumni Ma'had Minhajus Sunnah Bogor Jurusan Ulumus Syar'i

Artikel Terkait

Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan 2

Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 2)

OLEH M. SAIFUDIN HAKIM 31 JANUARI 2024 0

Sikap kedua: Bertakwa dan bertawakal hanya kepada Allah Sikap kedua pada saat kita sedang menghadapi kesulitan hidup adalah bertakwa kepada...

Istikamah Bukan Hal Mudah

Istikamah Bukan Hal Mudah

OLEH MUHAMMAD ZIA ABDURROFI 29 JANUARI 2024 0

Beratnya istikamah Seorang muslim dituntut untuk beristikamah dalam menjalankan dan mengamalkan syariat agama Islam. Allah Ta’ala berfirman,

... فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ

Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan

Sikap Seorang Mukmin Ketika di Puncak Kesulitan (Bag. 1)

OLEH M. SAIFUDIN HAKIM 31 JANUARI 2024 0

Dunia ini merupakan medan ujian dan cobaan. Keberadaan seorang hamba di dunia ini tidak lain untuk diuji, kemudian dikembalikan lagi...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar *

Disali dari Sumber Muslim.or

Copyright © 2024 muslim.or.id

Penulis Salinan:Rachmat.M

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

kisah Nabi Adam Turun Ke bumi


قصة نزول النبي آدم إلى الأرض

 رأي ابن كثير والإمام السيوطي في تقدير أن النبي آدم أمره الله تعالى بالنزول إلى الأرض سنة ٥٨٧٢ ق.م ٣١يوليو ٢٠٢٣

pendapat Ibnu Katsir dan Imam as-Suyuthi yang memperkirakan bahwa Nabi Adam as diperintahkan turun ke bumi oleh Allah Ta'ala pada tahun 5872 SM.31 Jul 2023

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Kisah Penciptaan Nabi Adam Alaihissallam

Written By Rachmat.M.Flimban on Senin, Januari 29, 2024 | Senin, Januari 29, 2024



Kisah Penciptaan Nabi Adam Alaihissallam

KISAH PENCIPTAAN NABI ADAM ALAIHISSALLAM

Oleh

Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc

Manusia pertama yang diciptakan Allâh Azza wa Jalla adalah Adam Alaihissallam. Beliau Alaihissallam adalah bapak dan nenek moyang seluruh manusia di seluruh dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُ مْ مِنَ الْجَنَّةِ

Wahai anak Adam! Janganlah kalian terfitnah oleh syaithan, sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga [Al-A'râf/7:27]

Allâh Azza wa Jalla menyebutkan dalam ayat di atas bahwa Adam dan pasangannya adalah orang tua seluruh manusia.

Allâh Azza wa Jalla menciptakan Adam Alaihissallam dari segenggam tanah yang Allâh Azza wa Jalla ambil dari seluruh permukaan tanah, maka lahirlah anak Adam yang sesuai dengan asal tanahnya. Di antara mereka ada yang berulit putih, merah, hitam dan perpaduan antara warna-warna tersebut. Diantara meraka ada yang bersifat lembut dan kasar serta perpaduan antara keduanya serta di antara mereka ada yang baik dan jahat. [1]

Sebelum menciptakan Adam Alaihissallam , Allâh Azza wa Jalla terlebih dahulu mengabarkan kepada para Malaikat-Nya bahwa Dia akan menciptakannya manusia di muka bumi. Mendengar ini, para Malaikat bertanya kepada Allâh Azza wa Jalla tentang hikmah penciptaan manusia di muka bumi, padahal para Malaikat terus-menerus beribadah dengan memuji dan bertasbih kepada Allâh Azza wa Jalla tanpa henti dan tidak pernah melakukan durhaka kepada-Nya, sementara manusia ada kemungkinan akan melakukan kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi. Menjawab ini, Allâh Azza wa Jalla mengatakan kepada mereka bahwa Dia Azza wa Jalla lebih mengetahui tentang apa-apa yang tidak diketahui oleh para Malaikat.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَة ً  ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَن َحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ  ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا ل َا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, “Sejujurnya Aku hendak menjadi seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allâh berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [Al-Baqarah/2:30]

Perkataan para Malaikat tentang kerusakan dan pertumpahan darah yang akan dilakukan manusia di muka bumi berdasarkan apa yang pernah dilakukan jin di muka bumi sebelum Adam Alaihissallam diciptakan. [2]

KEMULIAN ADAM ALAIHISSALLAM

Setelah Adam Alaihissallam diciptakan, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan para Malaikat dan jin untuk sujud kepada Adam Alaihissallam :

Baca Juga : Menebus Siksa

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِي سَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. [Al-baqarah/2:34]

Ini merupakan kemulian yang sangat agung yang Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan kepada Adam Alaihissallam .

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya, “Allah memerintahkan kepada para Malaikat yang saat itu sedang bersama dengan Iblis, bukan kepada semua malaikat yang ada di langit, 'Sujudlah kepada Adam!' Semua Malaikat itu sujud kepada Adam kecuali Iblis. Dia tidak mau sujud dan menyombongkan diri. Dia mengatakan, 'Saya tidak akan sujud kepadanya. Saya lebih baik daripada dia. Saya lebih tua dan lebih kuat. Engkau telah menciptakan aku dari api sementara Adam, Engkau menciptakan dari tanah.' Iblis memandang bahwa api lebih kuat dari tanah. 3]

Inilah awal mula permusuhan Iblis terhadap Bani Adam.

Sujud yang terkandung pada ayat di atas adalah bentuk penghormatan dan pemuliaan, bukan seperti sujud dalam shalat. Karena sujud yang seperti dalam shalat merupakan hak Allâh yang tidak boleh diberikan kepada selain Allâh Azza wa Jalla . [4]

Bentuk lain dari kemulian yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada nabi Adam Alaihissallam adalah dia diajari seluruh nama-nama benda. Kemulian ini yang Allâh tampakkan di hadapan para Malaikat, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla nyatakan dalam firman-Nya:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَة ِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيٿَ ﴎ ٣١﴾ قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا  ۖ إِنَّكَ أ َنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian Dia mengemukakannya kepada para Malaikat dan berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!”

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”

Allâh berfirman, “Hai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah Adam memberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allâh berfirman, “keluarnya sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan?” [Al-Baqarah/2:31-33]

Ibnu Katsir rahimahullah memandang bahwa perintah sujud lebih dulu diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla dibandingkan pengajaran Allâh Azza wa Jalla kepada Adam akan nama seluruh benda. Namun penyebutannya didahulukan sebelum ayat yang diperintahkan sujud, di karenakan lebih sesuai dengan pertanyaan para Malaikat tentang hikmah penciptaan manusia di muka bumi. [5]

Baca Juga   Apakah Mungkin Seseorang Mencela Kakeknya Sendiri?

Setelah para Malaikat diperintahkan untuk sujud kepada Adam Alaihissallam ,Allah mempersilahkan Adam Alaihissallam untuk tinggal di surga.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga, dan makanlah darinya.”

    Para penindas   الظَّالِمِينَ

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan isterimu di surga ini! Dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. [Al-Baqarah/2:35]

Untuk melengkapi kebahagian Adam Alaihissallam , Allâh Azza wa Jalla menciptakan Hawa yang diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla dari tulang rusuk Adam Alaihissallam yang menemaninya di dalam surga, keduanya diperbolehkan untuk menikmati semua kenikmatan di dalam surga, kecuali memakan satu jenis buah. [6]

Jenis buah yang terlarang bagi Adam Alaihissallam dan Hawa untuk mengkonsumsinya tidak diketahui jenisnya, meskipun sebagian Ulama Menyebutkan beberapa jenis buah, namun selama Allâh Azza wa Jalla tidak menjelaskannya maka memahami ayat tanpa menentukan jenisnya lebih baik. [7]

PELAJARAN PENTING

Semua ketetapan Allâh Azza wa Jalla mengandung hikmah yang terkadang tidak dijelaskan kepada paramakhluk-Nya, sehingga mereka tidak mengetahuinya dengan pasti.

Adam Alaihissallam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla. Dia juga merupakan manusia pertama yang tinggal di muka bumi.

Jin tinggal di muka bumi sebelum manusia dan mereka melakukan kerusakan di atasnya.

Kepatuhan para Malaikat terhadap perintah Allâh dan kekufuran Iblis.

Kesombongan adalah salah satu penyebab Iblis jatuh pada kekufuran dan kemudian keluar dari surga dengan mendapatkan laknat sampai hari berhenti.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIX/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Catatan Kaki

[1] HR. Abu Daud, Bab fil Qadar dan Imam at-Tirmidzi, Bab wa min Sûratil Baqarah

[2] Lihat al-Bidâyah wan Nihâyah dan Tafsir Ibnu Katsir , Surat al-Baqarah/2:30

[3]  Lihat Tafsir Ibnu Katsir

[4] Tafsir Ibnu Katsir

[5] Tafsir Ibnu Katsir .

[6] Para ulama berbeda pendapat tentang jenis buah yang diharamkan untuk di makan itu. Sebagian besar mereka menyebutkan buah anggur dan ada yang menyatakan buah zaitun dan ada yang mengatakan gandum. Lihat al-Bidâyah wan Nihâyah dan tafsir Ibnu Katsir

[7] lihat Tafsir Sûratil Baqarah , Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hlm. 129

Rumah/B2. Topik Bahasan8 Kisah.../Kisah Penciptaan Nabi Adam...

 Hadits Tentang Suami Istri , Hukum Pinjam Uang Dengan Bunga , Apa Itu Tawasul , Tentang Surah Ar Rahman ,

Tipu Daya Setan

Referensi : Article source Ibnu Majah author; Rachmathttps://almanhaj.or

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

 
Support : Blog author | Rachmat.M,MA | Duta Asri Palem 3
Copyright © 2013. PERUM DUTA ASRI PALEM3 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger