Latest Post
Tampilkan postingan dengan label makar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makar. Tampilkan semua postingan

Merasa Aman dari Makar Allah: Antara Dosa Besar dan Kekafiran (Bag. 1)

Written By Rachmat.M.Flimban on Senin, September 05, 2022 | Senin, September 05, 2022


Merasa Aman dari Makar Allah: Antara Dosa Besar dan Kekafiran (Bag. 1)

© 2022 muslim.or.id

1. Pengertian makar dan istidraj Allah Ta’ala
Daftar ARTIKEL TERKAIT

Selengkapnya Tekan Tombol Buka

1.Pengertian makar dan istidraj Allah Ta’ala

Makar Allah adalah Allah menimpakan perkara yang dibenci, bahaya, atau siksa kepada orang yang layak menerimanya tanpa ia sangka-sangka karena melalui sebab (cara) yang tidak diketahui.

Istidraj Allah adalah Allah memberi nikmat dunia yang diinginkan seorang hamba, namun ia terus-menerus berbuat maksiat, sesat, serta semakin jauh dari Allah.

Hubungan makar Allah dan istidraj Allah Ta’ala

Makar Allah adalah istidraj Allah disertai orang yang mendapatkan makar merasa aman dari siksa Allah .
Istidraj adalah cara Allah dalam menimpakan siksa/ bahaya dari arah yang tidak diketahui oleh orang yang mendapatkan makar Allah.
Apakah merasa aman dari makar Allah Ta’ala itu kekafiran?
Merasa aman dari makar Allah itu memiliki dua kemungkinan:
Pertama
,bisa kufur akbar yang berarti mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Kedua, bisa juga dosa besar yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Merasa aman dari makar Allah itu bertingkat-tingkat kadar keparahannya, sehingga dosanya pun bertingkat-tingkat. Setiap muslim yang berbuat dosa, pada hakikatnya ada kadar merasa aman dari siksa Allah, meski terkadang tidak sampai kepada derajat dosa besar merasa aman dari makar Allah. Oleh karena itu, kita tidak boleh meremehkan dosa, meskipun itu dosa kecil atau hanya sekali saja. Karena hal itu bisa menjerumuskan ke dosa besar, bahkan bisa berakhir kepada kekafiran. Wal’iyadzu billah.
Merasa aman dari makar Allah dihukumi kufur akbar jika tidak ada pokok dari rasa takut (ashlul khauf), yaitu tidak ada sama sekali rasa takut kepada Allah dan siksa-Nya. Merasa aman dari makar Allah dihukumi dosa besar jika masih ada rasa takut (ashlul khauf) yang paling minimal. Namun, kadar kesempurnaan takut yang wajib kepada Allah itu berkurang. Jadi masih ada takut kepada Allah, tetapi kadarnya lemah dan lebih dominan rasa aman dari makar Allah.
Yaitu makar (tipu daya) yang dilakukan dalam rangka membalas makar sejenis yang dilakukan oleh musuh (berarti didahului dan bukan mendahului berbuat makar). Jadi, makar itu baru terpuji jika dilakukan terhadap orang yang layak menerimanya, sebagai bentuk pembalasan baginya.
Tercela dan aib
Yaitu jika pelakunya memulai berbuat makar tanpa ada sebab yang dibenarkan dan dilakukan terhadap orang yang tidak layak menerimanya.
Baca Juga: Apa yang Dimaksud dengan Merasa Aman Dari Makar Allah?;
Tentulah Allah disifati dengan sifat makar pada kondisi yang terpuji. Allah disifati dengan sifat makar kepada orang yang layak mendapatkannya sesuai dengan keagungan-Nya. Sehingga tidak boleh kita hanya menyatakan Allah adalah Yang Berbuat Makar (Al-Maakir) begitu saja, tanpa diberi tambahan keterangan "kepada orang yang layak mendapatkannya". Hal ini karena Allah disifati dengan sifat makar dalam kondisi yang terpuji; sedangkan makar itu ada dua macam, terpuji dan tercela.
Sifat makar ditetapkan bagi Allah dalamkondisi yang terpuji, karena hal ini menunjukkan bahwa Sang Pemilik, sifat ini ( Allah تعالى ) itu Maha Kuat lagi Mampu menghadapi dan membalas tipu daya (makar) musuh-musuhnya.
Definisi dan kedudukan ibadah cinta, takut, dan harap kepada Allah Ta'ala
Definisi takut dan harap
Ungkapan ulama bervariasi dalam mendefinisikan takut dan harap.
Di antaranya;
Pertama: Takut adalah larinya hati dari perkara yang dibenci ketika merasa hal itu akan mengenainya.
Kedua: Takut adalah kegelisahan hati saat khawatir terkena sesuatu yang benci.
Ketiga: Harap adalah percaya terhadap kedermawanan Allah Ta'ala.
Keempat: Harap adalah memandang kepada luasnya rahmat Allah Ta'ala.
Baca Juga: Waspadai Makar Misionaris Dalam Menyesatkan Ummat
Kedudukan ibadah cinta, takut, dan harap kepada Allah Ta'ala.
Cinta, takut, dan harap kepada Allah Ta'ala adalah penggerak hati seorang hamba menuju kepada Allah Syaikhul Islam.
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;

اعلم أن محركات القلوب إلى الله عز وجل ثلاثة: المحبة، والخوف، والرجاء. وأقواها المحبة، وهي مقصودة تراد لذاتها؛ لأنها تراد في الدنيا والآخرة بخلاف الخوف فإنه يزول في الآخرة

"Ketahuilah, bahwa penggerak hati menuju kepada Allah 'Azza wa Jalla itu ada tiga, cinta, takut, dan harap Dan yang terkuat adalah cinta. Cints (kepad Allah) itu menjadi tujuan, karena dikehendaki adanya di dunia dan akherat. Lain halnya dengan rasa takut, maka takut kepada Allah akan hilang di akherat (Surga)"
Di samping itu, ulama juaga menyatakan bawha rasa cinta, takut, dan harap adalah rukun ibadah hati kepada Allah.
Kewajiban seorang muslim untuk menggabungkan antara takut dan harap kepada Allah Ta'ala.
Kewajiban seorang muslim menggabungkan antara takut dan harap, tidak boleh merasa aman dari makar Allah sehingga merusak rasa takutnya kepada Allah. Namun, tidak boleh juga berputus asa dari rahmat Allah sehingga merusak rasa harapnya kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
اَفَاَمِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ
"Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga )? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi" (Qs. AL-A'raf;99)
قَالَ وَمَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبِّهٖٓ اِلَّا الضَّاۤلُّوْنَ
"Dia (Ibrahim) berkata, "Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat "(Qs Al-Hijr; 56).

نَبِّئْ عِبَادِيْٓ اَنِّيْٓ اَنَا الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُۙ وَاَنَّ عَذَابِيْ هُوَ الْعَذَابُ الْاَلِيْمُ

"Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan sesungguhnya azab-ku adalah azab yang sangat pedih." (Qs Al-Hijr; 49-50).

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

"Katakanlah, "Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Qs. Az-Zumar; 53)

[Bersambung]

    Bacaan Berikutnya Insya Allah:
  • Anak Terlahir dari Orang Tua Kafir, Apakah Uzurnya Diterima?
  • Syarat Bolehnya Melakukan Perjalanan ke Negeri Kafir?
Disalin dari Sumber Artike;Muslim.or.id, Penulis; Sa'id Abu 'Ukkasyah
Penulis Salinan; Rachmat.M.Ma
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Apakah Kudeta Sama Dengan Makar? Ulasan Lengkap

Written By Rachmat.M.Flimban on Kamis, Agustus 25, 2022 | Kamis, Agustus 25, 2022

Apakah Kudeta Sama Dengan Makar?Ulasan Lengkap

pengisian Pengisian
Apakah Kudeta Sama Dengan Makar?
Ulasan Lengkap
Terima kasih atas pertanyaan yang sangat menarik ini. Kudeta atau makar pada dasarnya sebuah istilah yang dapat digunakan secara bergantian. Namun secara umum, kudeta lebih merujuk pada istilah politik sementara makar merujuk pada istilah hukum.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kudeta adalah kata kerja yang berarti perebutan kekuasaan (pemerintahan) dengan paksa. Sementara, dalam Wikipedia dijelaskan bahwa kudeta adalah sebuah tindakan pembalikan kekuasaan terhadap seseorang yang berwenang dengan cara illegal dan sering kali bersifat brutal, inkonstitusional berupa "penggambilalihan kekuasaan", "penggulingan kekuasaan" sebuah pemerintahan negara dengan menyerang (strategis, taktis, politis) legitimasi pemerintahan kemudian bermaksud untuk menerima penyerahan kekuasaan dari pemerintahan yang digulingkan. Pada dasarnya kudeta adalah sebuah perbuatan pidana namun perbuatan pidana akan lenyap apabila kudeta sukses karena adanya legitimasi politik dari rakyat dan militer.
Pada sisi lain, dalam hukum pidana istilah yang dikenal adalah makar. Tindak pidana makar masuk ke dalam rumpun kejahatan terhadap keamanan Negara. Secara teoritis, makar yang dikenal oleh umum adalah makar yang ditujukan ke dalam negeri yang dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu makar terhadap keselamatan Presiden dan Wakil Presiden, terhadap wilayah Negara, dan terhadap pemerintahan. Ketiga perbuatan ini diatur dalam Pasal 104, Pasal 106, dan Pasal 107 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”)
Bentuk tindak pidana yang tepat dalam konteks kudeta adalah makar untuk menggulingkan pemerintahan seperti yang diatur dalam Pasal 107 KUHP yang berbunyi :
“(1) Makar dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
(2) Para pemimpin dan pengatur makar tersebut dalam ayat 1, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.”
Makar dalam rumusan delik ini adalah penggantian pemerintahan dengan cara yang tidak sah yang tidak berdasarkan saluran yang ditetapkan dalam ndang-undang. Oleh Karena itu, tindak pidana makar baru dapat dikenakan apabila memenuhi syarat yang diatur dalam Pasal 87 KUHP. Pasal 87 KUHP menegaskan bahwa tindak pidana makar baru dianggap terjadi apabila telah dimulainya perbuatan-perbuatan pelaksanaan dari si pembuat makar.
Jika merujuk pada berita-berita media beberapa waktu lalu, tindakan orang yang “dianggap makar” barulah sebatas rencana untuk mengadakan demonstrasi-demonstrasi. Untuk itu, rumusan dan syarat delik ini tidak dapat terpenuhi.
Dasar hukum: Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Di Kutip dari Sumer Artikel; hukumonline
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Merasa Aman dari Makar (Bag. 2).

Written By Rachmat.M.Flimban on Rabu, Agustus 24, 2022 | Rabu, Agustus 24, 2022

Merasa Aman dari Makar Allah: Antara Dosa Besar dan Kekafiran (Bag. 2).

Baca pembahasan sebelumnya Merasa Aman dari Makar Allah: Antara Dosa Besar dan Kekafiran (Bag. 1)

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du,

Daftar Isi Sembunyikan

  1. Satatus dosa merasa aman dari makar Allah Ta'ala dan putus asa dari rahmat Allah Ta'ala
  2. Keburukan merasa aman dari makar Allah.
  3. Penyebab merasa aman dari makar Allah
  4. Keburukan putus asa dari rahmat Allah
  5. Penyebab putus asa dari rahmat Allah
  6. Cara menggabungkan antara takut dan harap kepada Allah
  7. Kadar rasa takut dan harap kepada Allah

    7.1.  Pertama: Seimbang antara takut dsn hsrspan kepada Allah.

    7.2. Kedua: Takut lebih besar daripada harap kepada Allah.

    7.3. Ketiga: Harap lebih besar daripada takut kepada Allah.

Status dosa merasa aman dari makar Allah Ta'ala dan putus asa dari rahmat Allah Ta'ala.

Berkaitan dengan status dosa putus dari rahmat Allah dan merasa aman dari makar-Nya, keduanya sama-sama merupakan dosa besar.

Diantara dalil yang yang menunjukkan hal ini adalah hadits dari 'Abbas radhiyallahu 'anhuma,

وعن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله ﷺ سئل عن الكبائر؟ فقال:

"Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang dosa besar.

Lalu beliau bersabda,

الشرك بالله، واليأس من روح الله، والأمن من مكر الله

"Menyekutukan Allah (Syirik), putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah. (HR, Ath-Thabrani rahimahullah dengan derajat hasab)

Allah Ta'ala berfirman,

اَفَاَمِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ

"Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (Yang tidak terduga-duga)?

Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah orang-orang yang rugi." (Qs, Al-A'raf : 99)

Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ وَمَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبِّهٖٓ اِلَّا الضَّاۤلُّوْنَ

"Dia (Ibrahim) berkata, "Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat."QS. Al-Hijr : 56)

Keburukan merasa aman dari makar Allah

Merasa aman dari makar Allah mengandung su'uzhan keapa Allah dan husnuzhan kepada diri sediri. Hal di karenakan hal berikut:

Petama: Pelakunya menganggap bahwa murka dan siksa Allah kurang (tidak menakutkan). Sehingga ia meremehkan dosa penyebab murka dan siksa Allah.

Hal itu dianggap bukan masalah besar atau bahkan bukan masalah.

Kedua: pelakunya ujub dengan amal salehnya. Sehingga merasa seolah-olah amal salehnya pasti diterima oleh Allah, atau Allah pasti akan mengampuni maksiat yang ia lakukan karena kebaikannya lebih besar (lebih banyak) daripada dosanya.

Baca Juga: Sifat Allah: Apakah hanya Tujuh atau Dua Puluh? (Bag.1)

Penyebab merasa aman dari makar Allah

Pelakunya merasa tidak mendapatkan teguran Allah saat terus-menerus bermaksiat atau merasa ujub dengan amal salehnya.

Keburukan putus asa dari rahmat Allah

Putus asa dari rahmat Allah itu mengandung su'uzhan (berprasangka buruk) kepada Allah Ta'ala dari dua sisi, yaitu:

Pertama:Berprasangka buruk terhadap kekuasaan Allah.

Karena jika seseorang yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka ia tidak akan menganggap harapannya mustahil dipenuhi oleh Allah.

Kedua: Berprangka buruk terhadap rahmat Allah. Karena jika seseorang yakin Allah Maha Kasih sayang, maka ia tidak akan menganggap mustahil disayangi Allah.

Penyebab putus asa dari rahmat Allah

Tidak Mengenal Allah dengan baik, khususnya tidak mengenal Kemahakuasaan-Nya dan sifat kasih sayang-Nya dsengan benar.

Bacaan Selanjutnya:Larangan Terhadap Nama dan Sifat Allah

Cara menggabungkan antara takut dan harap kepada Allah.

Selayaknya seorang mukmin hidup di dunia ini dengan dua sayap, yaitu rasa takut dan harap kepada Allah Ta'ala.

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,

القَلبُ في سَيرِهِ إلى الله عَزَّ وجَلَّ بِمَنْزِلة الطَّائر؛ فَالمَحَبّة رَأْسُهُ والخَوفُ والرَّجَاءُ جَنَاحَاه، فَمَتَى سَلِمَ الرَّأسُ والجَنَاحَانْ فَالطَّيرُ جَيد الطَّيرَانْ، ومَتَى قُطِعَ الرَّأس مَاتَ الطَّائر، ومَتَى فَقَد الجَنَاحَانْ فَهو عُرضَة لِكُلِّ صَائِد وكَاسِر

Hati dalam perjalanannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla itu seperti burung. Rasa cinta ibarat kepala burung. Takut dan harap ibarat kedua sayapnya. Tatkala kepala dan dua sayapnya normal, maka burung tersebut akan terbang dengan baik. Namun, ketika terputus kepalanya, matilah ia. Sedangkan jika dua sayapnya tidak ada, ia terancam jadi sasaran buruan dan akan jatuh.”

Takut kepada Allah akan menahan seorang hamba dari maksiat, sedangkan harap kepada Allah akan mendorong seorang hamba untuk taat kepada Allah. Jangan sampai rasa takut kepada Allah berlebihan, melupakan dalil-dalil tentang janji Allah, sehingga menjerumuskan seseorang ke dalam putus asa dari rahmat Allah.

Demikian pula, harap kepada Allah jangan sampai berlebihan, melupakan dalil-dalil tentang ancaman Allah, sehingga menjerumuskan seseorang ke dalam aman dari murka Allah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk pemuda yang sedang menghadapi kematian. Lalu beliau pun bertanya,

كيف تَجدُكَ ؟

Bagaimana keadaanmu?"

Pemuda itu menjawab, "Demi Allah, wahai Rasulullah Sesungguhnya saya berharap kepada Allah dan saya pun takut (kepada-Nya) karena dosa-dosaku."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

لا يَجْتَمِعَانِ في قَلْبِ عَبْدٍ في مِثْلِ هَذا الْمَوْطِنِ؛ إلاَّ أعْطَاهُ اللهُ ما يَرْجُو، وآمَنَهُ ممَّا يَخَافُ

"Tidaklah terkumpul kedua perkara tersebut dalam hati seorang hamba di saat menjelang kematian, kecuali Allah akan anugerahkan kepadanya apa yang ia harapkan dan Allah akan mengamankannya dari apa yang ia takutkan!” (HR. At-Tirmidzi, hasan sahih, Shahih At-Targhib wat-Tarhib)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallahu 'alaihi wasalam bersabda,

يقول الله – عزَّ وجلَّ -: وعزَّتي، لا أجمع على عبدي خوفَين، ولا أجْمع له أمنَين، إذا أمِنَني في الدُّنيا، أخفتُه يوم القيامة، وإذا خافني في الدُّنيا، أمنته يوم القيامة

"Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Demi keperkasaan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan pada hamba-Ku dua rasa takut dan tidak pula mengumpulkan untuknya dua rasa aman. Apabila ia merasa aman terhadap (siksa)-Ku di dunia, maka Aku buat ia takut di akhirat. Apabila ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku buat ia aman di akhirat.’” (HR. Al-Baihaqi rahimahullah, sahih dalam kitab Syu’abul Iman)

Salafussalih rahimahullah berkata,

مَنْ عبدَ الله بالحبِّ وحده، فهو زنديق، ومَن عبدَه بالخوف وحْده، فهو حروريٌّ – أي: خارجي – ومَن عبدَه بالرَّجاء وحْده، فهو مرجئ، ومن عبدَه بالخوف والحب والرَّجاء، فهو مؤمن موحِّد

“Barangsiapa yang menyembah Allah dengan cinta saja, maka ia zindiq. Barangsiapa yang menyembah-Nya dengan harap saja, maka ia murji’ah. Barangsiapa yang menyembah-Nya dengan takut saja, maka ia haruri (khawarij). Barangsiapa yang menyembah-Nya dengan cinta, takut, dan harap, maka ia seorang mukmin lagi sosok yang mentauhidkan Allah.”

Kadar rasa takut dan harap kepada Allah Kadar takut dan harap kepada Allah ada tiga kondisi, yaitu:

Pertama: Seimbang antara takut dan harap kepada Allah

Jika dalam keadaan sehat serta lapang dan rajin beramal saleh , maka hendaknya kadar keduanya seimbang. Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًاۗ وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ

Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Kedua: Takut lebih besar daripada harap kepada Allah

Jika dalam keadaan sehat serta lapang rezeki, namun gemar bermaksiat, atau sedang melakukan maksiat, maka hendaknya kadar takutnya lebih tinggi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

Jika Engkau melihat Allah memberi seorang hamba dunia apa yang ia sukai, sementara dia bermaksiat kepada Allah, maka ketahuilah itu hanyalah istidraj.”(HR. Ahmad, sahih)

Jika dalam keadaan merasa aman dari makar Allah dan azab-Nya, maka hendaknya kadar takutnya lebih tinggi.

Demikian pula, jika dalam keadaan sehat dan dapat nikmat, namun malas-malasan melakukan ketaatan, maka hendaknya kadar takutnya hendaklah lebih tinggi.

Baca Juga: Ta’wil Terhadap Ayat Tentang Sifat Allah

Ketiga: Harap lebih besar daripada takut kepada Allah

Jika dalam keadaan menghadapi kematian, maka hendaknya kadar harapannya lebih tinggi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا يَمُوتَنَّ أحدُكم إلا وهو يُحسنُ الظَّنَّ بالله عزوجل

"Janganlah salah seorang di antara kalian mati, kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Jika dalam keadaan putus asa dari rahmat Allah karena dosa-dosa, maka kadar harapannya hendaklah lebih tinggi. Wallahu a’lam bish-shawab.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

[Selesai]

Disalin dari Sumber Artikel; Muslim.or.id

Penulis; Rachmat.Flimban

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Merasa Aman dari Makar Allah Bag.1

Written By Rachmat.M.Flimban on Kamis, Juni 30, 2022 | Kamis, Juni 30, 2022


Merasa Aman dari Makar Allah: Antara Dosa Besar dan Kekafiran (Bag. 1)

Bismillah walhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,


Makar Allah adalah Allah menimpakan perkara yang dibenci, bahaya, atau siksa kepada orang yang layak menerimanya tanpa ia sangka-sangka karena melalui sebab (cara) yang tidak diketahui.

Istidraj Allah adalah Allah memberi nikmat dunia yang diinginkan seorang hamba, namun ia terus-menerus berbuat maksiat, sesat, serta semakin jauh dari Allah.

Hubungan makar Allah dan istidraj Allah Ta’ala

Makar Allah adalah istidraj Allah di sertai orang yang mendapatkan makar merasa aman dari siksa Allah

Istidraj adalah cara Allah dalam menimpakan siksa/bahaya dari arah yang tidak diketahui oleh orang yang mendapatkan makar Allah

Apakah Merasa aman dari makar Allah Ta'ala itu kekafiran?

Merasa aman dari makar Allah itu memiliki dua kemungkinan:

Pertama, bisa kufur akbar yang berarti mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Kedua, bisa juga dosa besar yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Merasa aman dari makar Allah itu bertingkat-tingkat kadar keparahannya, sehingga dosanyapun bertingkat-tingkat.

Setiap muslim yang berbuat dosa, pada hakikatnya ada kadar merasa aman dari siksa Allah, meski terkadang tidak sampai kepada derajat dosa besar merasa aman dari makar Allah. Oleh karena itu, kita tidak boleh meremehkan dosa, meskipun itu dosa kecil atau hanya sekali saja. Karena hal itu bisa menjerumuskan ke dosa besar, bahkan bisa berakhir kepada kekafiran. Wal’iyadzu billah.

Merasa aman dari makar Allah dihukumi kufur akbar jika tidak ada pokok dari rasa takut (ashlul khauf), yaitu tidak ada sama sekali rasa takut kepada Allah dan siksa-Nya. Merasa aman dari makar Allah dihukumi dosa besar jika masih ada rasa takut (ashlul khauf) yang paling minimal. Namun, kadar kesempurnaan takut yang wajib kepada Allah itu berkurang. Jadi masih ada takut kepada Allah, tetapi kadarnya lemah dan lebih dominan rasa aman dari makar Allah.

Pembagian makar

4.1 Terpuji dan sempurna

Yaitu makar (tipu daya) yang dilakukan dalam rangka membalas makar sejenis yang dilakukan oleh musuh (berarti didahului dan bukan mendahului berbuat makar) Jadi, makar itu baru terpuji jika dilakukan terhadap orang yang layak menerimanya, sebagai bentuk pembalasan baginya.

4.2Tercela dan aib

Yaitu pelakunya memulai berbuat makar tanpa ada sebab yang dibenarkan dan dilakukan terhadap orang yang tidak layak menerimanya.

Baca Juga: Apa yang Dimaksud dengan Merasa Aman Dari Makar Allah?

5. Apakah Allah Ta'ala disifati dengan sifat makar?

Tentulah Allah disifati dengan sifat makar pada kondisi yang terpuji. Allah disifati dengan sifat makar kepada orang yang layak mendapatkannya sesuai dengan keagungan-Nya. Sehingga tidak boleh kita hanya menyatakan Allah adalah Yang Berbuat Makar (Al-Maakir) begitu saja, tanpa diberi tambahan keterangan "kepada orang yang layak mendapatkannya". Hal ini karena Allah disifati dengan sifat makar dalam kondisi yang terpuji; sedangkan makar itu ada dua macam, terpuji dan tercela.

Sifat makar ditetapkan bagi Allah dalamkondisi yang terpuji, karena hal ini menunjukkan bahwa Sang Pemilik, sifat ini ( Allah تعالى ) itu Maha Kuat lagi Mampu menghadapi dan membalas tipu daya (makar) musuh-musuhnya.

6. Definisi dan kedudukan ibadah cinta, takut, dan harap kepada Allah Ta'ala

6.1 Definisi takut dan harap

Ungkapan ulama bervariasi dalam mendefinisikan takut dan harap.

Di antaranya;

Pertama: Takut adalah larinya hati dari perkara yang dibenci ketika merasa hal itu akan mengenainya.

Kedua: Takut adalah kegelisahan hati saat khawatir terkena sesuatu yang benci.

Ketiga: Harap adalah percaya terhadap kedermawanan Allah Ta'ala.

Keempat: Harap adalah memandang kepada luasnya rahmat Allah Ta'ala.

Baca Juga: Waspadai Makar Misionaris Dalam Menyesatkan Ummat

7. Kedudukan ibadah cinta, takut, dan harap kepada Allah Ta'ala.

8. Cinta, takut, dan harap kepada Allah Ta'ala adalah penggerak hati seorang hamba menuju kepada Allah Syaikhul Islam.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;

اعلم أن محركات القلوب إلى الله عز وجل ثلاثة: المحبة، والخوف، والرجاء. وأقواها المحبة، وهي مقصودة تراد لذاتها؛ لأنها تراد في الدنيا والآخرة بخلاف الخوف فإنه يزول في الآخرة

"Ketahuilah, bahwa penggerak hati menuju kepada Allah 'Azza wa Jalla itu ada tiga, cinta, takut, dan harap Dan yang terkuat adalah cinta. Cints (kepad Allah) itu menjadi tujuan, karena dikehendaki adanya di dunia dan akherat. Lain halnya dengan rasa takut, maka takut kepada Allah akan hilang di akherat (Surga)"

Di samping itu, ulama juaga menyatakan bawha rasa cinta, takut, dan harap adalah rukun ibadah hati kepada Allah.

9.Kewajiban seorang muslim untuk menggabungkan antara takut dan harap kepada Allah Ta'ala.

Kewajiban seorang muslim menggabungkan antara takut dan harap, tidak boleh merasa aman dari makar Allah sehingga merusak rasa takutnya kepada Allah. Namun, tidak boleh juga berputus asa dari rahmat Allah sehingga merusak rasa harapnya kepada Allah.

Kewajiban seorang muslim menggabungkan antara takut dan harap, tidak boleh merasa aman dari makar Allah sehingga merusak rasa takutnya kepada Allah. Namun, tidak boleh juga berputus asa dari rahmat Allah sehingga merusak rasa harapnya kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

اَفَاَمِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ

"Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga )? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi" (Qs. AL-A'raf;99)

قَالَ وَمَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبِّهٖٓ اِلَّا الضَّاۤلُّوْنَ

"Dia (Ibrahim) berkata, "Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat "(Qs Al-Hijr; 56).

نَبِّئْ عِبَادِيْٓ اَنِّيْٓ اَنَا الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُۙ وَاَنَّ عَذَابِيْ هُوَ الْعَذَابُ الْاَلِيْمُ

"Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan sesungguhnya azab-ku adalah azab yang sangat pedih." (Qs Al-Hijr; 49-50).

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

"Katakanlah, "Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Qs. Az-Zumar; 53)

[Bersambung]

Baca Juga:

Penulis; Rahmat.M,M,a
Disalin dari Sumber Artikel;Muslim.or.id
Penulis; Sa'id Abu 'Ukkasyah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

 
Support : Blog author | Rachmat.M,MA | Duta Asri Palem 3
Copyright © 2013. PERUM DUTA ASRI PALEM3 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger